PENGINDERAAN JAUH

A. Pengertian Penginderaan Jauh

Beberapa ahli berpendapat bahwa inderaja merupakan teknik yang

dikembangkan untuk memperoleh data di permukaan bumi, jadi inderaja sekedar

suatu teknik. Dalam perkembangannya ternyata inderaja seringkali berfungsi

sebagai suatu ilmu seperti yang dikemukakan oleh Everett Dan Simonett (1976):

Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistimatika

tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, ilmu ini harus

dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah,

perkotaan dan lain sebagainya.

Pendapat lain mengenai Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk

memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui

analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan

obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji. (Lillesand & Kiefer, 1994)

 

Penginderaan jauh dalam bahasa Inggris terjemahannya remote sensing,

sedangkan di Perancis lebih dikenal dengan istilah teledetection, di Jerman

disebut farnerkundung distantsionaya (Rusia), dan perception remota (Spanyol).

Meskipun masih tergolong pengetahuan yang baru, pemakaian penginderaan

jauh cukup pesat. Pemakaian penginderaan jauh itu antara lain untuk memperoleh

informasi yang tepat dari seluruh Indonesia yang luas. Informasi itu dipakai untuk

berbagai keperluan, seperti mendeteksi sumber daya alam, daerah banjir,

kebakaran hutan, dan sebaran ikan di laut.

 

1. Citra

Dalam penginderaan jauh di dapat masukkan data atau hasil observasi yang

disebut citra. Citra dapat diartikan sebagai gambatan yang tampak dari suatu

obyek yang sedang diamati, sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat

pemantau. Sebagai contoh, memotret bunga di taman. Foto bunga yang

berhasil kita buat itu merupakan citra bunga tersebut. Lihat gambar 3.2.

.

Menurut Hornby (1974) Citra adalah gambaran yang terekam oleh kamera

atau alat sensor lain. Sedangkan menurut Simonett, dkk (1983) Citra adalah

gambar rekaman suatu obyek (biasanya berupa gambaran pada foto) yang

didapat dengan cara optik, electrooptik, optik-mekanik, atau electromekanik.

Di dalam bahasa Inggris terdapat dua istilah yang berarti citra dalam bahasa

Indonesia, yaitu “image” dan “imagery”, akan tetapi imagery dirasa lebih tepat

penggunaannya (Sutanto, 1986). Agar dapat dimanfaatkan maka citra tersebut

harus diinterprestasikan atau diterjemahkan/ ditafsirkan terlebih dahulu.

2. Wahana

Kendaraan yang membawa alat pemantau dinamakan wahana. Berdasarkan

ketinggian peredaran wahana, tempat pemantauan atau pemotretan dari

angkasa ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu:

a. Pesawat terbang rendah sampai medium (Low to medium altitude aircraft),

dengan ketinggian antara 1000 meter sampai 9000 meter dari permukaan

bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra foto (foto udara).

b. Pesawat terbang tinggi (high altitude aircraft) dengan ketinggian sekitar

18.000 meter dari permukaan bumi. Citra yang dihasilkan ialah foto udara

dan Multispectral Scanner Data.

c. Satelit, dengan ketinggian antara 400 km sampai 900 km dari permukaan

bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra satelit.

 

 

B. Sistem Penginderaan Jauh

Komponen dan interaksi antar komponen dalam sistem penginderaan jauh dapat

diuraikan secara ringkas sebagai berikut:

1. Tenaga untuk Penginderaan Jauh

Pengumpulan data dalam penginderaan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan

menggunakan sensor buatan, untuk itu diperlukan tenaga penghubung yang

membawa data tentang obyek ke sensor. Data tersebut dikumpulkan dan

direkam dengan 3 cara dengan variasi sebagai berikut:

a. Distribusi daya (force)

Contoh: Gravitometer mengumpulkan data yang berkaitan dengan gaya

tarik bumi.

b. Distribusi gelombang bunyi

Contoh: Sonar digunakan untuk mengumpulkan data gelombang suara

dalam air.

c. Distribusi gelombang electromagnetik

Contoh: Camera untuk mengumpuilkan data yang berkaitan dengan

pantulan sinar.

 

Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga yaitu matahari yang

merupakan sumber utama tenaga elektromagnetik alami yang digunakan

pada teknik pengambilan data obyek dalam penginderaan jauh. Penginderaan

jauh dengan memanfaatkan tenaga alamiah disebut penginderaan jauh sistem

pasif. Sedangkan sumber tenaga buatan digunakan dalam penginderaan jauh

sistem aktif.

Tenaga ini mengenai obyek di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan

ke sensor. Ia juga dapat berupa tenaga dari obyek yang dipancarkan ke

sensor. Jumlah tenaga matahari yang mencapaui bumi (radiasi) dipengaruhi

oleh waktu (jam, musim), lokasi dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang

diterima pada siang hari lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlahnya

pada pagi atau sore hari. Kedudukan matahari terhadap tempat di bumi

berubah sesuai dengan perubahan musim.

2. Atmosfer

Atmosfer bersifat selektif terhadap panjang gelombang, sehingga hanya

sebagian kecil saja tenaga elektromagnetik yang dapat mencapai permukaan

bumi dan dimanfaatkan untuk penginderaan jauh. Bagian spektrum

elektromagnetik yang mampu melalui atmosfer dan dapat mencapai

permukaan bumi disebut “jendela atmosfer”. Jendela atmosfer yang paling

dulu dikenal orang dan paling banyak digunakan dalam penginderaan jauh

hingga sekarang ialah spektrum tampak yang dibatasi oleh gelombang 0,4

μm hingga 0,7 μm . Tenaga elektromagnetik dalam jendela atmosfer tidak dapat mencapai

permukaan bumi secara utuh, karena sebagian dari padanya mengalami

hambatan oleh atmosfer. Hambatan ini terutama disebabkan oleh butir-butir

yang ada di atmosfer seperti debu, uap air dan gas. Proses penghambatannya

terjadi dalam bentuk serapan, pantulan dan hamburan.

3. Sensor atau Alat Pengindera

Sensor adalah alat yang digunakan untuk melacak, mendeteksi, dan merekam

suatu obyek dalam daerah jangkauan tertentu. Tiap sensor memiliki kepekaan

tersendiri terhadap bagian spektrum elektromagnetik. (Lihat tabel 3.1).

Kemampuan sensor untuk merekam gambar terkecil disebut resolusi spasial.

Semakin kecil obyek yang dapat direkam oleh sensor semakin baik kualitas

sensor itu dan semakin baik resolusi spasial dari citra.

 

Berdasarkan proses perekamannya, sensor dibedakan:

a. Sensor Fotografi

Proses perekaman ini berlangsung secara kimiawi. Tenaga

elektromagnetik diterima dan direkam pada emulsi film yang bila diproses

akan menghasilkan foto. Kalau pemotretan dilakukan dari pesawat udara

atau wahana lainnya, fotonya disebut foto udara. Tapi bila pemotretan

dilakukan dari antariksa, fotonya disebut foto orbital atau foto satelit.

b. Sensor Elektrik

Sensor ini menggunakan tenaga elektrik dalam bentuk sinyal elektrik.

Alat penerima dan perekamannya berupa pita magnetik atau detektor

lainnya. Sinyal elektrik yang direkam pada pita magnetik ini kemudian

diproses menjadi data visual maupun menjadi data digital yang siap

dikomputerkan.

 

Pemerosesannya menjadi citra dapat dilakukan dengan

dua cara, yakni:

1) dengan memotret data yang direkam dengan pita magnetik yang

diwujudkan secara visual pada layar monitor.

2) dengan menggunakan film perekam khusus. Hasilnya berupa foto

dengan film sebagai alat perekamnya, tapi film di sini hanya berfungsi

sebagai alat perekam saja, maka hasilnya disebut citra penginderaan

jauh.

 

3. Perolehan Data

Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual yaitu dengan interpretasi

secara visual, dan dapat pula dengan cara numerik atau cara digital yaitu

dengan menggunakan komputer. Foto udara pada umumnya diinterpretasi

secara manual, sedangkan data hasil penginderaan jauh secara elektronik

dapat diinterpretasi secara manual maupun secara numerik.

4. Pengguna Data

Penggunaan data (orang, badan, atau pemerintah) merupakan komponen

paling penting dalam penginderaan jauh karena para penggunalah yang dapat

menentukan diterima atau tidaknya hasil penginderaan jauh tersebut. Data

yang dihasilkan mencakup wilayah, sumber daya alam suatu negara yang

merupakan data sangat penting untuk kepentingan orang banyak, maka data

ini penting dijaga penggunaannya.

 

C. Jenis Citra

Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographyc image) atau foto udara dan

citra non foto (non-photograpyc image).

1. Citra Foto

Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor

kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa dasar yaitu:

a. Spektrum Elektromagnetik yang digunakan

Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat

dibedakan atas:

1) Foto ultra violet yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum

ultra violet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Cirinya

tidak banyak informasi yang dapat disadap, tetapi untuk beberapa

51

obyek dari foto ini mudah pengenalannya karena kontrasnya yang

besar. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi; tumpahan minyak di

laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal,

batuan kapur.

2) Foto ortokromatik yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan

spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 – 0,56

mikrometer). Cirinya banyak obyek yang tampak jelas. Foto ini

bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap obyek di

bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. Baik

untuk survey vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras.

3) Foto pankromatik yaitu foto yang menggunakan seluruh spektrum

tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film

hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Cirinya pada warna

obyek sama dengan kesamaan mata manusia. Baik untuk mendeteksi

pencemaran air, kerusakan banjir, penyebaran air tanah dan air

permukaan.

4) Foto infra merah asli (true infrared photo), yaitu foto yang dibuat dengan

menggunakan spektrum infra merah dekat hingga panjang gelombang

0,9 – 1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Cirinya dapat

mencapai bagian dalam daun, sehingga rona pada foto infra merah

tidak ditentukan warna daun tetapi oleh sifat jaringannya. Baik untuk

mendeteksi berbagai jenis tanaman termasuk tanaman yang sehat

atau yang sakit.

5) Foto infra merah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan infra merah

dekat dan sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan

sebagian saluran hijau. Dalam foto ini obyek tidak segelap dengan

film infra merah sebenarnya, sehingga dapat dibedakan dengan air.

b. Sumbu Kamera

Sumbu kamera dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke

permukaan bumi, yaitu (Lihat gambar 3.7):

1) Foto vertikal atau foto tegak (orto photograph) yaitu foto yang dibuat

dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.

2) Foto condong atau foto miring (oblique photograph), yaitu foto yang

dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus

ke permukaan bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 derajat atau

lebih besar.Tapi bila sudut condongnya masih berkisar antara 1 – 4

derajat, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai foto vertikal.

52

Foto condong masih dibedakan lagi menjadi:

a) Foto agak condong (low oblique photograph), yaitu apabila cakrawala

tidak tergambar pada foto.

b) Foto sangat condong (high oblique photograph), yaitu apabila pada

foto tampak cakrawalanya.

c. Sudut liputan kamera

Paine (1981) membedakan citra foto berdasarkan sudut liputan (angular

coverage) atas 4 jenis.

 

d. Berdasarkan jenis kamera yang digunakan foto dapat dibedakan

atas:

1) Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Tiap

daerah liputan foto hanya tergambar oleh satu lembar foto.

2) Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibuat pada saat yang sama

dan menggambarkan daerah liputan yang sama. Adapun

pembuatannya ada 3 cara:

a) multi kamera atau beberapa kamera yang masing-masing

diarahkan ke satu sasaran.

b) kamera multi lensa atau satu kamera dengan beberapa lensa.

c) kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna.

Foto jamak dibedakan lebih jauh lagi:

a) Foto multispektral yaitu beberapa foto untuk daerah yang sama

dengan beberapa kamera, atau satu kamera dengan beberapa lensa

masing-masing, lensa menggunakan band (saluran) yang berbeda

yaitu biru, hijau, merah serta infra merah pantulan.

b) Foto dengan kamera ganda yaitu pemotretan di suatu daerah dengan

menggunakan beberapa kamera dengan jenis film yang berbeda. Misal

pankromatik dan infra merah.

c) Foto dengan sudut kamera ganda yaitu dengan menggunakan satu

kamera vertikal di bagian tengah dan beberapa foto condong di bagian

tepi.

e. Warna yang digunakan:

1) Foto berwarna semu (false color) atau foto infra merah berwarna.

Pada foto berwarna semu, warna obyek tidak sama dengan warna

foto. Misalnya vegetasi yang berwarna hijau dan banyak memantulkan

spektrum infra merah, tampak merah pada foto.

2) Foto warna asli (true color), yaitu foto pankromatik berwarna.

f. Sistem wahana

Berdasarkan wahana yang digunakan dibedakan:

1) Foto udara yaitu foto yang dibuat dari pesawat/balon udara.

2) Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang dibuat dari satelit.

 

2. Citra Non Foto

Citra non foto adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera.

Citra non foto dibedakan atas:

a. Spektrum elektromagnetik yang digunakan

Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan dalam

penginderaan, Citra Nonfoto dibedakan atas:

1) Citra infra merah thermal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum

infra merah thermal. Penginderaan pada spektrum ini berdasarkan

atas beda suhu obyek dan daya pancarnya pada citra tercermin

dengan beda rona atau beda warnanya.

2) Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan

sektrum Gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan

dengan sistem aktif yaitu dengan sumber tenaga buatan, sedang citra

gelombang mikro dihasilkan dengan sistem pasif yaitu dengan

menggunakan sumber tenaga alamiah.

b. Sensor yang digunakan

Berdasarkan sensor yang digunakan, citra non foto terdiri dari:

1) Citra tunggal, yakni citra yang dibuat dengan sensor tunggal, yang

salurannya lebar.

2) Citra multispektral, yakni cerita yang dibuat dengan sensor jamak,

tetapi salurannya sempit, yang terdiri dari:

• Citra RBV (Return Beam Vidicon), sensornya berupa kamera yang

hasilnya tidak dalam bentuk foto karena detektornya bukan film

dan prosesnya non fotografik.

• Citra MSS (Multi Spektral Scanner), sensornya dapat

menggunakan spektrum tampak maupun spektrum infra merah

thermal. Citra ini dapat dibuat dari pesawat udara.

c. Wahana yang digunakan

Berdasarkan wahana yang digunakan, citra non foto dibagi atas:

1) Citra dirgantara (Airbone image), yaitu citra yang dibuat dengan

wahana yang beroperasi di udara (dirgantara).

Contoh: Citra Infra Merah Thermal, Citra Radar dan Citra MSS. Citra

dirgantara ini jarang digunakan.

2) Citra Satelit (Satellite/Spaceborne Image), yaitu citra yang dibuat dari

antariksa atau angkasa luar. Citra ini dibedakan lagi atas

penggunaannya, yakni:

a) Citra satelit untuk penginderaan planet. Contoh: Citra Satelit Viking

(AS), Citra Satelit Venera (Rusia).

b) Citra Satelit untuk penginderaan cuaca. Contoh: NOAA (AS), Citra

Meteor (Rusia).

c) Citra Satelit untuk penginderaan sumber daya bumi. Contoh: Citra

Landsat (AS), Citra Soyuz (Rusia) dan Citra SPOT (Perancis).

d) Citra Satelit untuk penginderaan laut. Contoh: Citra Seasat (AS),

Citra MOS (Jepang).

Iklan

PROYEKSI PETA

Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin. Dalam proyeksi peta diupayakan sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di muka bumi dan di peta.

Pada prinsipnya arti proyeksi peta adalah usaha mengubah bentuk bidang lengkung ke bentuk bidang datar, dengan persyaratan bentuk yang diubah itu harus tetap, luas permukaan yang diubah harus tetap dan jarak antara satu titik dengan titik yang lain di atas permukaan yang diubah harus tetap.
Dalam pembuatan peta apabila kita ingin menggambarkan perubahan benda yang berukuran tiga dimensi ke benda yang berukuran dua dimensi, benda itu harus diproyeksikan ke bidang datar. Teknik proyeksi ini juga berlaku untuk memindahkan letak titik-titik pada permukaan bumi ke bidang datar yang dinamakan Proyeksi Peta.
Secara khusus pengertian dari proyeksi peta adalah cara memindahkan sistem paralel (garis lintang) dan meridian (garis bujur) berbentuk bola (Globe) ke bidang datar (peta). Hasil pemindahan dari globe ke bidang datar ini akan menjadi peta.Pemindahan dari globe ke bidang datar harus diusahakan akurat. Agar kesalahan diperkecil sampai tidak ada kesalahan maka proses pemindahan harus memperhatikan syarat-syarat di bawah ini:
a. Bentuk-bentuk di permukaan bumi tidak mengalami perubahan (harus tetap),persis seperti pada gambar peta di globe bumi.
b. Luas permukaan yang diubah harus tetap.
c. Jarak antara satu titik dengan titik lain di atas permukaan bumi yang diubah harus tetap.
Di dalam proses pembuatan peta untuk dapat memenuhi ketiga syarat di atas sekaligus adalah suatu hal yang tidak mungkin. Bahkan untuk dapat memenuhi satu syarat saja untuk seluruh bola dunia juga merupakan hal yang tidak mungkin, yang bisa dipenuhi hanyalah satu saja dari syarat-syarat di atas dan ini hanya untuk sebagian kecil dari muka bumi.
Oleh karena itu, untuk dapat membuat rangka peta yang meliputi wilayah yang lebih besar harus dilakukan kompromi ketiga syarat di atas. Akibat dari kompromi itu maka lahir bermacam jenis proyeksi peta.

 

 

Macam-macam Proyeksi peta
A. Berdasarkan sifat asli yang dipertahankan
a. Proyeksi Ekuivalen adalah luas daerah dipertahankan sama, artinya luas di atas peta sama dengan luas di atas muka bumi setelah dikalikan skala.
b. Proyeksi Konform artinya bentuk-bentuk atau sudut-sudut pada peta dipertahankan sama dengan bentuk aslinya.
c. Proyeksi Ekuidistan artinya jarak-jarak di peta sama dengan jarak di muka bumi setelah dikalikan skala.
B. Berdasarkan Kedudukan Sumbu Simetris
a. Proyeksi Normal, apabila sumbu simetrisnya berhimpit dengan sumbu bumi.
b. Proyeksi Miring, apabila sumbu simetrinya membentuk sudut terhadap sumbu bumi
c. Proyeksi Transversal, apabila sumbu simetrinya tegak lurus pada sumbu bumi atau terletak di bidang ekuator. Proyeksi ini disebut juga Proyeksi ekuatorial.

C. Berdasarkan bidang asal proyeksi yang digunakan

a. Proyeksi Zenithal (Azimuthal)

 

Proyeksi zenithal adalah proyeksi peta yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksinya. Proyeksi ini menyinggung bola bumi dan berpusat pada satu titik.
Proyeksi ini menggambarkan daerah kutub dengan menempatkan titik kutub pada titik pusat proyeksi.
Ciri-ciri Proyeksi Azimuthal:
• Garis-garis bujur sebagai garis lurus yang berpusat pada kutub.
• Garis lintang digambarkan dalam bentuk lingkaran yang konsentris mengelilingi kutub.
• Sudut antara garis bujur yang satu dengan lainnya pada peta besarnya sama.
• Seluruh permukaan bumi jika digambarkan dengan proyeksi ini akan berbentuk lingkaran.
Proyeksi Azimuthal dibedakan 3 macam, yaitu:
Ø Proyeksi Azimut Normal yaitu bidang proyeksinya menyinggung kutub.
Ø Proyeksi Azimut Transversal yaitu bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
Ø Proyeksi Azimut Oblique yaitu bidang proyeksinya menyinggung salah satu tempat antara kutub dan ekuator.

 

 

 

 

 

 

b. Proyeksi Kerucut (Conical Projection)

 
Proyeksi Kerucut yaitu pemindahan garisgaris meridian dan paralel dari suatu globe ke sebuah kerucut. Untuk proyeksi normalnya cocok untuk memproyeksikan daerah lintang tengah (miring). Proyeksi ini memiliki paralel melingkar dengan meridian berbentuk jari-jari. Paralel berwujud garis lingkaran sedangkan bujur berupa jari-jari.
Proyeksi kerucut dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
• Proyeksi kerucut normal atau standar
Jika garis singgung bidang kerucut pada bola bumi terletak pada suatu paralel (Paralel Standar).
• Proyeksi Kerucut Transversal
Jika kedudukan sumbu kerucut terhadap sumbu bumi tegak lurus.
• Proyeksi Kerucut Oblique (Miring)
Jika sumbu kerucut terhadap sumbu bumi terbentuk miring.

c. Proyeksi Silinder atau Tabung

 
Proyeksi Silinder adalah suatu proyeksi permukaan bola bumi yang bidang proyeksinya berbentuk silinder dan menyinggung bola bumi.
Apabila pada proyeksi ini bidang silinder menyinggung khatulistiwa, maka semua garis paralel merupakan garis horizontal dan semua garis meridian merupakan garis lurus vertikal.
Penggunaan proyeksi silinder mempunyai beberapa keuntungan yaitu:
• Dapat menggambarkan daerah yang luas.
• Dapat menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa.
• Daerah kutub yang berupa titik digambarkan seperti garis lurus.
• Makin mendekati kutub, makin luas wilayahnya.
Jadi keuntungan proyeksi ini yaitu cocok untuk menggambarkan daerah ekuator, karena ke arah kutub terjadi pemekaran garis lintang.
Proyeksi Azimuthal, proyeksi kerucut (conical) dan proyeksi silinder (cylindrical) termasuk kelompok proyeksi murni. Penggunaan jenis proyeksi-proyeksi murni ini sangat terbatas.

D. Proyeksi Gubahan (Proyeksi Arbitrary)
Proyeksi-proyeksi ini dipergunakan untuk menggambarkan peta-peta yang kita jumpai sehari-hari, merupakan proyeksi atau rangka peta yang diperoleh secara perhitungan.
Contoh-contoh proyeksi gubahan antara lain:
a) Proyeksi Bonne (Equal Area) Sifat-sifatnya sama luas. Sudut dan jarak benar pada meridian tengah dan pada paralel standar. Semakin jauh dari meridian tengah, bentuk menjadi sangat terganggu. Baik untuk menggambarkan Asia yang letaknya di sekitar khatulistiwa.
b) Proyeksi Sinusoidal
Pada proyeksi ini menghasilkan sudut dan jarak sesuai pada meridian tengah dan daerah khatulistiwa sama luas. Jarak antara meridian sesuai, begitu pula jarak antar paralel. Baik untuk menggambar daerah-daerah yang kecil dimana saja. Juga untuk daerah-daerah yang luas yang letaknya jauh dari khatulistiwa. Proyeksi ini sering dipakai untuk Amerika Selatan, Australia dan Afrika.
c) Proyeksi Mercator
Proyeksi Mercator merupakan proyeksi silinder normal konform, dimana seluruh muka bumi dilukiskan pada bidang silinder yang sumbunya berimpit dengan bola bumi, kemudian silindernya dibuka menjadi bidang datar.
Sifat-sifat proyeksi Mercator yaitu:
• Hasil proyeksi adalah baik dan betul untuk daerah dekat ekuator, tetapi distorsi makin membesar bila makin dekat dengan kutub.
• Interval jarak antara meridian adalah sama dan pada ekuator pembagian vertikal benar menurut skala.
• Interval jarak antara paralel tidak sama, makin menjauh dari ekuator, interval jarak makin membesar.
• Proyeksinya adalah konform.
• Kutub-kutub tidak dapat digambarkan karena terletak di posisi tak terhingga.
d) Proyeksi Mollweide
Pada proyeksi ini sama luas untuk berubah di pinggir peta.
e) Proyeksi Gall
Sifatnya sama luas, bentuk sangat berbeda pada lintang-lintang yang mendekati kutub.
f) Proyeksi Homolografik (Goode)
Sifatnya sama luas. Merupakan usaha untuk membetulkan kesalahan yang terjadi pada proyeksi Mollweide. Baik untuk menggambarkan penyebaran
Macam-macam Proyeksi Peta itu akan digunakan sesuai dengan kebutuhan keadaan dan proyeksi yang paling tepat digunakan,Misalny pada:
1) Seluruh Dunia
• Dalam dua belahan bumi dipakai Proyeksi Zenithal kutub
• Peta-peta statistik (penyebaran penduduk, hasil pertanian) pakai Mollweide
• Arus laut, iklim pakai Mollweide atau Gall
• Navigasi dengan arah kompas tetap, hanya Mercator
2. Daerah Kutub
• Proyeksi Lambert
• Proyeksi Zenithal sama jarak
3. Daerah Belahan Bumi Selatan
• Sinusoidal
• Lambert
• Bonne
4. Untuk Daerah yang lebar ke samping tidak jauh dari Khatulistiwa
• Pilih satu dari jenis proyeksi kerucut.
• Proyeksi apapun sebenarnya dapat dipakai