GAMBAR ILUSTRASI

Ilustrasi adalah hasil visualisasi dari suatu tulisan dengan teknik drawing, lukisan, fotografi, atau teknik seni rupa lainnya yang lebih menekankan hubungan subjek dengan tulisan yang dimaksud daripada bentuk.
Tujuan ilustrasi adalah untuk menerangkan atau menghiasi suatu cerita, tulisan, puisi, atau informasi tertulis lainnya. Diharapkan dengan bantuan visual, tulisan tersebut lebih mudah dicerna.
A. Fungsi
Fungsi khusus ilustrasi antara lain:
• Memberikan bayangan setiap karakter di dalam cerita
• Memberikan bayangan bentuk alat-alat yang digunakan di dalam tulisan ilmiah
• Memberikan bayangan langkah kerja
• Mengkomunikasikan cerita.
• Menghubungkan tulisan dengan kreativitas dan individualitas manusia.
• Memberikan humor-humor tertentu untuk mengurangi rasa bosan.
• Dapat menerangkan konsep
B. Sejarah
Konsep ilustrasi bisa ditinjau kembali ke masa silam melalui lukisan dinding prasejarah dan konsep tulisan hierioglif.
Masa keemasan ilustrasi Amerika Serikat berlangsung pada tahun 1880, setelah perang dunia I. Hal ini terjadi seiring dengan populernya surat kabar, majalah, dan buku berilustrasi yang memungkinkan adanya eksperimen teknik oleh senimannya. Pada saat inilah banyak ilustrator yang menjadi kaya dan terkenal. Tema yang banyak muncul adalah aspirasi bangsa Amerika saat itu.
Di Eropa, seniman pada masa keemasan dipengaruhi oleh kelompok Pre-Raphaelite dan gerakan-gerakan yang berorientasi kepada desain seperti Arts and Crafts Movement, Art Nouveau, dan Les Nabis. Contohnya Walter Crane, Edmund Dulac, Aubrey Beardsley, Arthur Rackham dan Kay Nielsen.
Pada masa kini, ilustrasi semakin berkembang dengan penggunaan banyak software pembantu sepertiAdobe Illustrator, Photoshop, CorelDraw, dan CAD. Namun ilustrasi tradisional yang dibuat dengan tangan tetap memiliki nilai yang tinggi.
Di Indonesia, sejarah tradisi ilustrasi dapat merujuk kepada lukisan gua yang terdapat di Kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan dan di pulau Papua. Jejak ilustrasi yang berumur hampir 5000 tahun itu menggambarkan tumpukan jari tangan berwarna merah terakota. Selain lukisan gua, wayang beber dalam hiburan tradisional Jawa dan Bali dilihat sebagai ilustrasi yang merepresentasikan alur cerita kisah Mahabarata, tradisi yang kira-kira muncul bersamaan dengan berdirinya kerajaan Sriwijaya yang menganut agama Hindu di Pulau Sumatera bagian Selatan.
C. Tokoh-Tokoh Ilustrasi Indonesia
- Henk Ngantung, pada majalah Intisari.
- Delsy Samsumar, pada majalah Varia.
- G.M. Sidharta, pada harian Kompas.
- Danarto, Mulyadi W, Ipe Ma’ruf, pada majalah
Si Kuncung.
- Cahyono, Adi Permadi, pada majalah Bobo.
- S. Prinka, pada majalah Tempo.
D. PRINSIP-PRINSIP GAMBAR ILUSTRASI
1. Mudah dimengerti dan menarik.
2. Disesuaikan dengan isi tulisan atau maksud
cerita.
3. Disesuaikan dengan sasaran pembaca ( anak-
anak, remaja, dewasa ).
E. MEDIA GAMBAR ILUSTRASI
1. Cat poster ( tebal / blok ).
2. Cat air ( tipis / transparan ).
3. Pensil ( H, HB, B, B2, B3, B4, B5, B6 ).
4. Konte.
5. Pensil warna.
6. Krayon.
7. Pastel.
8. Dll.
F. UNSUR GAMBAR ILUSTRASI
1. Gambar manusia
2. Gambar binatang
3. Gambar tumbuhan

BIOSFER

Makhluk hidup merupakan salah satu komponen penghuni geosfer. Selain manusia, makhluk hidup yang menempati Planet Bumi adalah hewan (fauna) dan tumbuhan (flora). Hewan maupun tumbuhan ada yang hidup di daratan dan di perairan, baik pada kawasan air tawar ataupun di air laut. Namun, tidak seluruh permukaan bumi dapat menjadi tempat hidup bagi organisme. Mengapa? Karena berhubungan erat dengan berbagai persyaratan hidup, faktor pendukung, dan faktor penghambat bagi kelangsungan hidup organisme itu sendiri. Wilayah-wilayah di permukaan bumi yang sesuai untuk lingkungan hidup organisme dikenal dengan istilah biosfer. Secara umum, biosfer terdiri atas tiga lingkungan utama atau biocycle, yaitu biocycle darat, biocycle air tawar (sungai, danau, atau kolam), dan biocycle air asin (berkadar garam atau laut). Selain biosfer dan biocycle, dalam studi makhluk hidup kita juga dikenal istilah ekosistem dan bioma.

Tokoh yang kali pertama mengenalkan istilah ekosistem adalah ahli biologi berkebangsaan Inggris bernama A. Tansley (1935). Menurutnya, ekosistem merupakan suatu sistem yang meliputi komponen tumbuh-tumbuhan, hewan, serta lingkungan fisik sebagai tempat hidupnya. Komponen-komponen tersebut senantiasa berinteraksi dan saling memengaruhi antara satu dan lainnya sesuai dengan fungsinya masing-masing. Misalnya, fungsi utama tumbuhan yaitu sebagai produsen dalam memproduksi bahan-bahan makanan yang diperlukan bagi kelangsungan hidup konsumen (hewan dan manusia).
Secara terperinci, Tansley mengemukakan bahwa ekosistem meliputi komponen-komponen antara lain sebagai berikut.
• Komponen biotik, terdiri atas:
1) tumbuhan sebagai produsen;
2) hewan sebagai konsumen, meliputi:
a) herbivora, yaitu hewan pemakan tumbuhan;
b) karnivora, yaitu hewan pemakan daging;
c) omnivora, yaitu hewan pemakan tumbuhan dan daging;
d) bakteri dan jamur sebagai pengurai
• Komponen abiotik, meliputi iklim dan bahan-bahan anorganik berupa mineral-mineral yang terdapat dalam batuan, tanah, air, dan udara. Beberapa contohnya, antara lain Karbon (C), Nitrogen (N), Karbondi oksida (CO2), Air (H2O), Oksigen (O2), protein, karbohidrat, dan lemak.
Menurut Charles Kendrich, istilah bioma dapat diartikan sebagai unit-unit geografis besar yang perbedaannya didasarkan atas tipe-tipe klimaks atau vegetasi dominan (tumbuhan) atau bentuk kehidupan binatang. Pada umumnya, sistem penamaan bioma didasarkan atas vegetasi utama yang mendominasi suatu wilayah di bawah pengaruh iklim. Contoh penamaan bioma antara lain bioma hutan hujan tropik, sabana, stepa (padang rumput), tundra, dan taiga.
Ciri-ciri umum yang menandai suatu bioma antara lain sebagai berikut.
1. Bioma merupakan komunitas klimaks, artinya pada wilayah tersebut terdapat suatu bentuk vegetasi utama yang mendominasi kawasan tersebut, seperti hutan gugur daun, hutan berdaun jarum (hutan konifer), atau padang rumput.
2. Bioma terbentuk sebagai hasil interaksi antara unsur-unsur lingkungan, yaitu iklim, tanah, dan organisme yang hidup di lingkungan tersebut (biota).
3. Bioma merupakan komunitas (satuan kehidupan) yang cukup mantap dalam periode jangka waktu yang lama, kecuali terjadi suatu kejadian tiba-tiba yang mengganggu kestabilan komunitas. Misalnya, bencana alam, wabah penyakit, perubahan tatanan iklim global, atau gangguan akibat ulah manusia.
4. Suatu jenis bioma dapat mudah dikenali dengan melihat petunjuk vegetasi utamanya (vegetasi klimaks).
5. Bioma pada umumnya menempati wilayah yang luas.

By Aristya Kristina Dewi Posted in GEOGRAFI

PERTANIAN di INDONESIA

PENDAHULUAN
Pertanian dalam pengertian yang luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan manusia. Dalam arti sempit, pertanian juga diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan sebidang lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu, terutama yang bersifat semusim.
Usaha pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu. Kehutanan adalah usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar atau liar (hutan). Peternakan menggunakan subjek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau serangga (misalnya lebah). Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk amfibia dan semua non-vertebrata air). Suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai subjek ini bersama-sama dengan alasan efisiensi dan peningkatan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga menjadi bagian dalam usaha pertanian.
Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif (intensive farming). Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian ke cara pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi. Karena pertanian industrial selalu menerapkan pertanian intensif, keduanya sering kali disamakan.
Sisi yang berseberangan dengan pertanian industrial adalah pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Pertanian berkelanjutan, dikenal juga dengan variasinya seperti pertanian organik atau permakultur, memasukkan aspek kelestarian daya dukung lahan maupun lingkungan dan pengetahuan lokal sebagai faktor penting dalam perhitungan efisiensinya. Akibatnya, pertanian berkelanjutan biasanya memberikan hasil yang lebih rendah daripada pertanian industrial.
Pertanian modern masa kini biasanya menerapkan sebagian komponen dari kedua kutub “ideologi” pertanian yang disebutkan di atas. Selain keduanya, dikenal pula bentuk pertanian ekstensif (pertanian masukan rendah) yang dalam bentuk paling ekstrem dan tradisional akan berbentuk pertanian subsisten, yaitu hanya dilakukan tanpa motif bisnis dan semata hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau komunitasnya.
Sebagai suatu usaha, pertanian memiliki dua ciri penting: selalu melibatkan barang dalam volume besar dan proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi. Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya budidaya alga, hidroponika) telah dapat mengurangi ciri-ciri ini tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.

A. Pengertian Pertanian
Pertanian dalam arti luas adalah sema kegiatan yang meliputi bercocok tanam, perikanan, peternakan dan kehi\utanan. Indonesia termasuk negara agraris, artinya sebagian besar dari penduduk hidup di pertanian.
B. Faktor Pendorong Pertanian
Adapun faktor yang mendorong pertanian diantaranya:
1) Keadaan fisis yang baik untuk pertanian, diantaranya: tanah yang luas dan subur, iklim yang baik, dan lapisan tanah yang gembur dan cukup tebal
2) Susunan penduduknya menurut mata pencahariannya menunjukan ±10% penduduk Indonesia hidup dari pertanian
3) Sektor pertanian menghasilkan lebih dari 50% dari pendapatan nasional
4) Penduduk Indonesia cukup banyak, sehingga pertanian membutuhkan banyak tenaga kerja
C. Jenis-jenis Pertanian

Berdasarkan pengelolaanya, pertanian dibedakan menjadi dua, yaitu:

®     Pertanian rakyat adalah pertanian yang diusahakan oleh rakyat. Pertanian ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik konsumsi sendiri maupun konsumsi lokal. Ciri-ciri: modal kecil, lahan sempit, dikelola sederhana, tenaga kerja sederhana, tenaga kerja keluarga sendiri, peralatan sendiri.

®    Pertanian besar adalah pertanian yang diusahakan oleh perusahaan, baik swasta maupun BUMN. Pertanian ini bertujuan untuk keperluan ekspor atau bahan baku industri. Ciri-ciri: modal usaha besar, lahan luas, dikelola secara modern.


Berdasarkan jenis tanamannya pertanian dibedakan menjadi dua yaitu:

»  Pertanian tanaman pangan

Adalah usaha pertanian yang berupa bahan pangan. Tanaman pangan dibedakan menjadi tiga yaitu, jenis padi-padian, jenis palawija (ketela pohon, ketela rambat, umbi-umbian, kacang tanah dll) dan jenis holtikultura (buah dan sayuran)

»  Pertanian tanaman perkebunan

Adalah usaha pertanian yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan perdagangan besar. Tanaman perkebunan dapat dibedakan menjadi tanaman perkebunan musiman (tebu,tembakau,dll) dan tanaman perkebunan tahunan (kopi,karet, coklast,dll)
Jenis-jenis sawah meliputi
1) Sawah irigasi, yaitu sawah yang menggunakan perairan secara teratur
2) Sawah tadah hujan, aytiu sawah yang menggunakan perairan dengan air huajan
3) Sawah lebak, yaitu sawah yang diusahakan di bantaran sungai besar saat penghujan
4) Sawah bancah, yaitu sawah yang diusahakan di daerah pantai dekat muara sungai. Sawah ini juga dinamakan sawah pasang surut

 

Berdasarkan lahannya pertanian dibedakan menjadi empat, yaitu:

Þ    Bersawah adalah usaha bercocok tanam yang dilakukan di sawah dengan jenis tanaman

Þ    Berladang adalah usaha bercocok di lahan kering, pada saat musim hujan dan dilakukan dengan cara berpindah-pindah

Þ    Bertegal, adalah usaha bercocok tanam di lahan kering dengan memanfaatkan air hujan. Hasilnya jagung, kacang, ketela dll

Þ    Berkebun, adalah usaha bercocok tanam yang dilakukan di sekitar rumah (pekarangan)

 
D. Faktor Pendorong dan Penghambat Usaha Pertanian Indonesia
Faktor pendorong usaha pertanian Indonesia:
1) Pengaruh iklim muson menyebabkan berjenis-jenis flora dapat tumbuh dengan subur
2) Tanah di Indonesia subur
3) Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi

 

Faktor penghambat usaha pertanian Indonesia:
1) Kemarau panjang
2) Hama tanaman (tikus, wereng dan belalang)
3) Penyimpangan iklim
4) Faktor manusia
e. Usaha Pemerintah memajukan pertanian

Pemerintah telah menempuh dua usaha dalam rangka meningkatkan hasil pertanian, yaitu:

  • Usaha dalam jangka pendek meliputi:
    a) Memperluas pemakaian bibit-bibit unggul, jenis PB, IR, Bengawan dan lain-lain
    b) Memperluas pemakaian pupuk dan pemberantasan hama dan mendirikan kursus-kursus tani untuk memberitahukan pertanian
    c) Mengadakan badan-badan: Bulgonas (Badan Usaha Logistik Nasional), Dolog (Depot Logistik), BUUD (Badan Usaha Unit Desa), KUD (Koperasi Unit Deas)

Usaha jangka panjang meliputi:
a) Membuka tanah pertanian baru diluar jawa
b) Pembuatan waduk dan saluran irigasi
c) Mendirikan pabrik pupuk

GAMBAR PERSEPEKTIF

1. Pengertian Perspektif

Perpektif berasal dari kata itali “ PROPERTIVA” yang berarti gambar pandangan. Pengertian singkatnya adlah sebagai ilmu melihat. Pengertian luar ilmu perpektif adalah suatu ilmu yang memungkinkan kita menggambar sebuah benda/ ruang secara nyata di sebuah bidang datar. Sehingga diperoleh kesan gambar sepeti yang dilihat.

2. Perbedaan kontruksi Perspektif dan sket perspektif

Prinsip utama gambar perspektif adalah visualisasi sebuah benda atau ruang secara nyata pada sebuah bidang datar sehingga diperoleh kesan gambar seperti yang kita lihat. Konstruksi Perspektif dan sket perspektif memiliki prinsip utama yang sama, perbedaanya pada teknik visualisasinya. Konstruksi perspektif teknik visualisasinya menggunakan alat-alat ilmu ukur yang pasti, sedangkan sket perspektif teknik visualisasinya cenderung tanpa menggunakan alat ukur. Sket perspektif biasanya dideskripsikan sebagai rancangan gambar dari suatu benda atau hasil pengamat dari suatu benda atau ruang yang member kesan mirip benda / ruang yang di rancang, diangankan, atau yang di amati. Fungsi gambar sket Perpektif Gambar sket perpektif memiliki berbagai fungsi, antara lain ; · Membantu dalam penguasaan prinsip dasar menggambar bentuk dan menggambar ilustrasi · Membantu dalam pembuatan rancangan gambar kerja, arsitektur, mendesain tata ruang, tata taman, dsb.

Ciri utama gambar Perpektif ·

Dikerjakan dengan pensil / pena / kuas atau sejenisnya dan di upayakan tidak memakai alat ilmu ukur atau hanya menggunakan alat ilmu sederhana.

·Hasil gambar cenderung bersifat linear, garis sederhana dan cepat dalam pengerjaanya

· Biasa digambar dengan permainan garis tebal dan tipis

· Penggunaan warna bersifat sederhana sesuai focus obyek

· Menampakan karakter / kesan obyek secara rasional Prinsip prinsip dalam menggambar sket perspektif

· Mengukur jarak distansi minimal 3cm tinggi benda

· Menentukan posisi penggambar, yakni formal atau menyamping

· Membatasi lingkup pandangan untuk menentukan focus pandangan

· Menentukan letak horizon

· Membuat bagian uuntuk menentukan komposisi obyek

· Untuk obyek yang tinggi perlu dibuatkan skala gambar, misalnya dibuatkan gambar orang.

Dlam menggambar sket perspektif tidak seperti halnya dalam dunia fotografi. Sudut mata manusia dalam melihat sekeliling relative terbatas, yakni 40 derajat sampai 60 derajat, sedangkan fotografi bisa melihat lebih dari 60 derajat, sehingga hasil gambar bisa lebih luas.

Hasil gambar sket perspektif tampak lebih rasional (realistis) di banding hasil gambar kontruksi perspektif, hal ini di sebabkan karena dalam konstruksi perspektif penggambaran benda hanya menggunakan 1 mata saja. Sedangkan dalam sket perspektif penggambaran dengan pengamatan langsung menggunakan 2 mata kita sehingga dapat menghasilkan gambar lebih realistis. Pada penerapan pembuatan gambar, kontruksi perspektif cenderung menggunakan titik hilang dengan jarak dekat. Sehingga sudut siku benda tampak terlalu lancip / tumpul. Sedangkan gambar sket perspektif cenderung menggunakan titik hilang dengan jarak relative jauh dan rasional.

Dalam menggambar perspektif ditentukan oleh keadaan horizon (Vansting paint) / kedudukanya mata si penggambar berdasarkan posisi / kedudukan penggambar / pengamat gambar.sudut pandang bisa dibagi menjadi 3 macam, yakni ;

A. Sudut Pandang mata Burung

Pada sudut pandang mata burung mata kita seolah olah berada di atas dan melihat obyek benda di bawah. Jadi, letak garis Horizon berada diatas bidang gambar. Sementara itu letak titik hilangnya berada pada garis itu, bisa di bagian kiri, tengah, kanan. Bahkan bisa juga di letakkan di luar bidang gambar. Setiap objek yang di gambar, garisnya bersumber dari titik hilang.

B. Sudut Pandang Normal

Pada sudut pandang normal, diri kita seolah olah berdiri normal memandang lurus kedepan. Dengan demikian, bagian atas dan bagian bawah terlihat lebih seimbang. Letak garis Horizon tepat di tengah tengah bidang gambar dan titik hilang bisa diletakkan di mana saja pada garis tersebut. Semua objek yang digambar garisnya berasal dari titik hilang.

C. Sudut Pandang Mata Kucing

Pada sudut pandang mata kucing, kita seolah olah dalam posisi tiarap dan melihat ke depan sehoingga penampakan objek bagian atas akan lebih dominan. Letak garis horizon di bagian bawah bidang gambar dan letak titik hilangnya pada garis horizon. Titik hilang ini dijadikan pusat untuk menarik garis dalam menggambarkan setiap objek benda.

 

By Aristya Kristina Dewi Posted in SENI RUPA

PENGINDERAAN JAUH

A. Pengertian Penginderaan Jauh

Beberapa ahli berpendapat bahwa inderaja merupakan teknik yang

dikembangkan untuk memperoleh data di permukaan bumi, jadi inderaja sekedar

suatu teknik. Dalam perkembangannya ternyata inderaja seringkali berfungsi

sebagai suatu ilmu seperti yang dikemukakan oleh Everett Dan Simonett (1976):

Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistimatika

tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, ilmu ini harus

dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah,

perkotaan dan lain sebagainya.

Pendapat lain mengenai Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk

memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui

analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan

obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji. (Lillesand & Kiefer, 1994)

 

Penginderaan jauh dalam bahasa Inggris terjemahannya remote sensing,

sedangkan di Perancis lebih dikenal dengan istilah teledetection, di Jerman

disebut farnerkundung distantsionaya (Rusia), dan perception remota (Spanyol).

Meskipun masih tergolong pengetahuan yang baru, pemakaian penginderaan

jauh cukup pesat. Pemakaian penginderaan jauh itu antara lain untuk memperoleh

informasi yang tepat dari seluruh Indonesia yang luas. Informasi itu dipakai untuk

berbagai keperluan, seperti mendeteksi sumber daya alam, daerah banjir,

kebakaran hutan, dan sebaran ikan di laut.

 

1. Citra

Dalam penginderaan jauh di dapat masukkan data atau hasil observasi yang

disebut citra. Citra dapat diartikan sebagai gambatan yang tampak dari suatu

obyek yang sedang diamati, sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat

pemantau. Sebagai contoh, memotret bunga di taman. Foto bunga yang

berhasil kita buat itu merupakan citra bunga tersebut. Lihat gambar 3.2.

.

Menurut Hornby (1974) Citra adalah gambaran yang terekam oleh kamera

atau alat sensor lain. Sedangkan menurut Simonett, dkk (1983) Citra adalah

gambar rekaman suatu obyek (biasanya berupa gambaran pada foto) yang

didapat dengan cara optik, electrooptik, optik-mekanik, atau electromekanik.

Di dalam bahasa Inggris terdapat dua istilah yang berarti citra dalam bahasa

Indonesia, yaitu “image” dan “imagery”, akan tetapi imagery dirasa lebih tepat

penggunaannya (Sutanto, 1986). Agar dapat dimanfaatkan maka citra tersebut

harus diinterprestasikan atau diterjemahkan/ ditafsirkan terlebih dahulu.

2. Wahana

Kendaraan yang membawa alat pemantau dinamakan wahana. Berdasarkan

ketinggian peredaran wahana, tempat pemantauan atau pemotretan dari

angkasa ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu:

a. Pesawat terbang rendah sampai medium (Low to medium altitude aircraft),

dengan ketinggian antara 1000 meter sampai 9000 meter dari permukaan

bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra foto (foto udara).

b. Pesawat terbang tinggi (high altitude aircraft) dengan ketinggian sekitar

18.000 meter dari permukaan bumi. Citra yang dihasilkan ialah foto udara

dan Multispectral Scanner Data.

c. Satelit, dengan ketinggian antara 400 km sampai 900 km dari permukaan

bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra satelit.

 

 

B. Sistem Penginderaan Jauh

Komponen dan interaksi antar komponen dalam sistem penginderaan jauh dapat

diuraikan secara ringkas sebagai berikut:

1. Tenaga untuk Penginderaan Jauh

Pengumpulan data dalam penginderaan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan

menggunakan sensor buatan, untuk itu diperlukan tenaga penghubung yang

membawa data tentang obyek ke sensor. Data tersebut dikumpulkan dan

direkam dengan 3 cara dengan variasi sebagai berikut:

a. Distribusi daya (force)

Contoh: Gravitometer mengumpulkan data yang berkaitan dengan gaya

tarik bumi.

b. Distribusi gelombang bunyi

Contoh: Sonar digunakan untuk mengumpulkan data gelombang suara

dalam air.

c. Distribusi gelombang electromagnetik

Contoh: Camera untuk mengumpuilkan data yang berkaitan dengan

pantulan sinar.

 

Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga yaitu matahari yang

merupakan sumber utama tenaga elektromagnetik alami yang digunakan

pada teknik pengambilan data obyek dalam penginderaan jauh. Penginderaan

jauh dengan memanfaatkan tenaga alamiah disebut penginderaan jauh sistem

pasif. Sedangkan sumber tenaga buatan digunakan dalam penginderaan jauh

sistem aktif.

Tenaga ini mengenai obyek di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan

ke sensor. Ia juga dapat berupa tenaga dari obyek yang dipancarkan ke

sensor. Jumlah tenaga matahari yang mencapaui bumi (radiasi) dipengaruhi

oleh waktu (jam, musim), lokasi dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang

diterima pada siang hari lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlahnya

pada pagi atau sore hari. Kedudukan matahari terhadap tempat di bumi

berubah sesuai dengan perubahan musim.

2. Atmosfer

Atmosfer bersifat selektif terhadap panjang gelombang, sehingga hanya

sebagian kecil saja tenaga elektromagnetik yang dapat mencapai permukaan

bumi dan dimanfaatkan untuk penginderaan jauh. Bagian spektrum

elektromagnetik yang mampu melalui atmosfer dan dapat mencapai

permukaan bumi disebut “jendela atmosfer”. Jendela atmosfer yang paling

dulu dikenal orang dan paling banyak digunakan dalam penginderaan jauh

hingga sekarang ialah spektrum tampak yang dibatasi oleh gelombang 0,4

μm hingga 0,7 μm . Tenaga elektromagnetik dalam jendela atmosfer tidak dapat mencapai

permukaan bumi secara utuh, karena sebagian dari padanya mengalami

hambatan oleh atmosfer. Hambatan ini terutama disebabkan oleh butir-butir

yang ada di atmosfer seperti debu, uap air dan gas. Proses penghambatannya

terjadi dalam bentuk serapan, pantulan dan hamburan.

3. Sensor atau Alat Pengindera

Sensor adalah alat yang digunakan untuk melacak, mendeteksi, dan merekam

suatu obyek dalam daerah jangkauan tertentu. Tiap sensor memiliki kepekaan

tersendiri terhadap bagian spektrum elektromagnetik. (Lihat tabel 3.1).

Kemampuan sensor untuk merekam gambar terkecil disebut resolusi spasial.

Semakin kecil obyek yang dapat direkam oleh sensor semakin baik kualitas

sensor itu dan semakin baik resolusi spasial dari citra.

 

Berdasarkan proses perekamannya, sensor dibedakan:

a. Sensor Fotografi

Proses perekaman ini berlangsung secara kimiawi. Tenaga

elektromagnetik diterima dan direkam pada emulsi film yang bila diproses

akan menghasilkan foto. Kalau pemotretan dilakukan dari pesawat udara

atau wahana lainnya, fotonya disebut foto udara. Tapi bila pemotretan

dilakukan dari antariksa, fotonya disebut foto orbital atau foto satelit.

b. Sensor Elektrik

Sensor ini menggunakan tenaga elektrik dalam bentuk sinyal elektrik.

Alat penerima dan perekamannya berupa pita magnetik atau detektor

lainnya. Sinyal elektrik yang direkam pada pita magnetik ini kemudian

diproses menjadi data visual maupun menjadi data digital yang siap

dikomputerkan.

 

Pemerosesannya menjadi citra dapat dilakukan dengan

dua cara, yakni:

1) dengan memotret data yang direkam dengan pita magnetik yang

diwujudkan secara visual pada layar monitor.

2) dengan menggunakan film perekam khusus. Hasilnya berupa foto

dengan film sebagai alat perekamnya, tapi film di sini hanya berfungsi

sebagai alat perekam saja, maka hasilnya disebut citra penginderaan

jauh.

 

3. Perolehan Data

Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual yaitu dengan interpretasi

secara visual, dan dapat pula dengan cara numerik atau cara digital yaitu

dengan menggunakan komputer. Foto udara pada umumnya diinterpretasi

secara manual, sedangkan data hasil penginderaan jauh secara elektronik

dapat diinterpretasi secara manual maupun secara numerik.

4. Pengguna Data

Penggunaan data (orang, badan, atau pemerintah) merupakan komponen

paling penting dalam penginderaan jauh karena para penggunalah yang dapat

menentukan diterima atau tidaknya hasil penginderaan jauh tersebut. Data

yang dihasilkan mencakup wilayah, sumber daya alam suatu negara yang

merupakan data sangat penting untuk kepentingan orang banyak, maka data

ini penting dijaga penggunaannya.

 

C. Jenis Citra

Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographyc image) atau foto udara dan

citra non foto (non-photograpyc image).

1. Citra Foto

Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor

kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa dasar yaitu:

a. Spektrum Elektromagnetik yang digunakan

Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat

dibedakan atas:

1) Foto ultra violet yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum

ultra violet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Cirinya

tidak banyak informasi yang dapat disadap, tetapi untuk beberapa

51

obyek dari foto ini mudah pengenalannya karena kontrasnya yang

besar. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi; tumpahan minyak di

laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal,

batuan kapur.

2) Foto ortokromatik yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan

spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 – 0,56

mikrometer). Cirinya banyak obyek yang tampak jelas. Foto ini

bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap obyek di

bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. Baik

untuk survey vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras.

3) Foto pankromatik yaitu foto yang menggunakan seluruh spektrum

tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film

hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Cirinya pada warna

obyek sama dengan kesamaan mata manusia. Baik untuk mendeteksi

pencemaran air, kerusakan banjir, penyebaran air tanah dan air

permukaan.

4) Foto infra merah asli (true infrared photo), yaitu foto yang dibuat dengan

menggunakan spektrum infra merah dekat hingga panjang gelombang

0,9 – 1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Cirinya dapat

mencapai bagian dalam daun, sehingga rona pada foto infra merah

tidak ditentukan warna daun tetapi oleh sifat jaringannya. Baik untuk

mendeteksi berbagai jenis tanaman termasuk tanaman yang sehat

atau yang sakit.

5) Foto infra merah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan infra merah

dekat dan sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan

sebagian saluran hijau. Dalam foto ini obyek tidak segelap dengan

film infra merah sebenarnya, sehingga dapat dibedakan dengan air.

b. Sumbu Kamera

Sumbu kamera dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke

permukaan bumi, yaitu (Lihat gambar 3.7):

1) Foto vertikal atau foto tegak (orto photograph) yaitu foto yang dibuat

dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.

2) Foto condong atau foto miring (oblique photograph), yaitu foto yang

dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus

ke permukaan bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 derajat atau

lebih besar.Tapi bila sudut condongnya masih berkisar antara 1 – 4

derajat, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai foto vertikal.

52

Foto condong masih dibedakan lagi menjadi:

a) Foto agak condong (low oblique photograph), yaitu apabila cakrawala

tidak tergambar pada foto.

b) Foto sangat condong (high oblique photograph), yaitu apabila pada

foto tampak cakrawalanya.

c. Sudut liputan kamera

Paine (1981) membedakan citra foto berdasarkan sudut liputan (angular

coverage) atas 4 jenis.

 

d. Berdasarkan jenis kamera yang digunakan foto dapat dibedakan

atas:

1) Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Tiap

daerah liputan foto hanya tergambar oleh satu lembar foto.

2) Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibuat pada saat yang sama

dan menggambarkan daerah liputan yang sama. Adapun

pembuatannya ada 3 cara:

a) multi kamera atau beberapa kamera yang masing-masing

diarahkan ke satu sasaran.

b) kamera multi lensa atau satu kamera dengan beberapa lensa.

c) kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna.

Foto jamak dibedakan lebih jauh lagi:

a) Foto multispektral yaitu beberapa foto untuk daerah yang sama

dengan beberapa kamera, atau satu kamera dengan beberapa lensa

masing-masing, lensa menggunakan band (saluran) yang berbeda

yaitu biru, hijau, merah serta infra merah pantulan.

b) Foto dengan kamera ganda yaitu pemotretan di suatu daerah dengan

menggunakan beberapa kamera dengan jenis film yang berbeda. Misal

pankromatik dan infra merah.

c) Foto dengan sudut kamera ganda yaitu dengan menggunakan satu

kamera vertikal di bagian tengah dan beberapa foto condong di bagian

tepi.

e. Warna yang digunakan:

1) Foto berwarna semu (false color) atau foto infra merah berwarna.

Pada foto berwarna semu, warna obyek tidak sama dengan warna

foto. Misalnya vegetasi yang berwarna hijau dan banyak memantulkan

spektrum infra merah, tampak merah pada foto.

2) Foto warna asli (true color), yaitu foto pankromatik berwarna.

f. Sistem wahana

Berdasarkan wahana yang digunakan dibedakan:

1) Foto udara yaitu foto yang dibuat dari pesawat/balon udara.

2) Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang dibuat dari satelit.

 

2. Citra Non Foto

Citra non foto adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera.

Citra non foto dibedakan atas:

a. Spektrum elektromagnetik yang digunakan

Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan dalam

penginderaan, Citra Nonfoto dibedakan atas:

1) Citra infra merah thermal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum

infra merah thermal. Penginderaan pada spektrum ini berdasarkan

atas beda suhu obyek dan daya pancarnya pada citra tercermin

dengan beda rona atau beda warnanya.

2) Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan

sektrum Gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan

dengan sistem aktif yaitu dengan sumber tenaga buatan, sedang citra

gelombang mikro dihasilkan dengan sistem pasif yaitu dengan

menggunakan sumber tenaga alamiah.

b. Sensor yang digunakan

Berdasarkan sensor yang digunakan, citra non foto terdiri dari:

1) Citra tunggal, yakni citra yang dibuat dengan sensor tunggal, yang

salurannya lebar.

2) Citra multispektral, yakni cerita yang dibuat dengan sensor jamak,

tetapi salurannya sempit, yang terdiri dari:

• Citra RBV (Return Beam Vidicon), sensornya berupa kamera yang

hasilnya tidak dalam bentuk foto karena detektornya bukan film

dan prosesnya non fotografik.

• Citra MSS (Multi Spektral Scanner), sensornya dapat

menggunakan spektrum tampak maupun spektrum infra merah

thermal. Citra ini dapat dibuat dari pesawat udara.

c. Wahana yang digunakan

Berdasarkan wahana yang digunakan, citra non foto dibagi atas:

1) Citra dirgantara (Airbone image), yaitu citra yang dibuat dengan

wahana yang beroperasi di udara (dirgantara).

Contoh: Citra Infra Merah Thermal, Citra Radar dan Citra MSS. Citra

dirgantara ini jarang digunakan.

2) Citra Satelit (Satellite/Spaceborne Image), yaitu citra yang dibuat dari

antariksa atau angkasa luar. Citra ini dibedakan lagi atas

penggunaannya, yakni:

a) Citra satelit untuk penginderaan planet. Contoh: Citra Satelit Viking

(AS), Citra Satelit Venera (Rusia).

b) Citra Satelit untuk penginderaan cuaca. Contoh: NOAA (AS), Citra

Meteor (Rusia).

c) Citra Satelit untuk penginderaan sumber daya bumi. Contoh: Citra

Landsat (AS), Citra Soyuz (Rusia) dan Citra SPOT (Perancis).

d) Citra Satelit untuk penginderaan laut. Contoh: Citra Seasat (AS),

Citra MOS (Jepang).

PROYEKSI PETA

Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin. Dalam proyeksi peta diupayakan sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di muka bumi dan di peta.

Pada prinsipnya arti proyeksi peta adalah usaha mengubah bentuk bidang lengkung ke bentuk bidang datar, dengan persyaratan bentuk yang diubah itu harus tetap, luas permukaan yang diubah harus tetap dan jarak antara satu titik dengan titik yang lain di atas permukaan yang diubah harus tetap.
Dalam pembuatan peta apabila kita ingin menggambarkan perubahan benda yang berukuran tiga dimensi ke benda yang berukuran dua dimensi, benda itu harus diproyeksikan ke bidang datar. Teknik proyeksi ini juga berlaku untuk memindahkan letak titik-titik pada permukaan bumi ke bidang datar yang dinamakan Proyeksi Peta.
Secara khusus pengertian dari proyeksi peta adalah cara memindahkan sistem paralel (garis lintang) dan meridian (garis bujur) berbentuk bola (Globe) ke bidang datar (peta). Hasil pemindahan dari globe ke bidang datar ini akan menjadi peta.Pemindahan dari globe ke bidang datar harus diusahakan akurat. Agar kesalahan diperkecil sampai tidak ada kesalahan maka proses pemindahan harus memperhatikan syarat-syarat di bawah ini:
a. Bentuk-bentuk di permukaan bumi tidak mengalami perubahan (harus tetap),persis seperti pada gambar peta di globe bumi.
b. Luas permukaan yang diubah harus tetap.
c. Jarak antara satu titik dengan titik lain di atas permukaan bumi yang diubah harus tetap.
Di dalam proses pembuatan peta untuk dapat memenuhi ketiga syarat di atas sekaligus adalah suatu hal yang tidak mungkin. Bahkan untuk dapat memenuhi satu syarat saja untuk seluruh bola dunia juga merupakan hal yang tidak mungkin, yang bisa dipenuhi hanyalah satu saja dari syarat-syarat di atas dan ini hanya untuk sebagian kecil dari muka bumi.
Oleh karena itu, untuk dapat membuat rangka peta yang meliputi wilayah yang lebih besar harus dilakukan kompromi ketiga syarat di atas. Akibat dari kompromi itu maka lahir bermacam jenis proyeksi peta.

 

 

Macam-macam Proyeksi peta
A. Berdasarkan sifat asli yang dipertahankan
a. Proyeksi Ekuivalen adalah luas daerah dipertahankan sama, artinya luas di atas peta sama dengan luas di atas muka bumi setelah dikalikan skala.
b. Proyeksi Konform artinya bentuk-bentuk atau sudut-sudut pada peta dipertahankan sama dengan bentuk aslinya.
c. Proyeksi Ekuidistan artinya jarak-jarak di peta sama dengan jarak di muka bumi setelah dikalikan skala.
B. Berdasarkan Kedudukan Sumbu Simetris
a. Proyeksi Normal, apabila sumbu simetrisnya berhimpit dengan sumbu bumi.
b. Proyeksi Miring, apabila sumbu simetrinya membentuk sudut terhadap sumbu bumi
c. Proyeksi Transversal, apabila sumbu simetrinya tegak lurus pada sumbu bumi atau terletak di bidang ekuator. Proyeksi ini disebut juga Proyeksi ekuatorial.

C. Berdasarkan bidang asal proyeksi yang digunakan

a. Proyeksi Zenithal (Azimuthal)

 

Proyeksi zenithal adalah proyeksi peta yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksinya. Proyeksi ini menyinggung bola bumi dan berpusat pada satu titik.
Proyeksi ini menggambarkan daerah kutub dengan menempatkan titik kutub pada titik pusat proyeksi.
Ciri-ciri Proyeksi Azimuthal:
• Garis-garis bujur sebagai garis lurus yang berpusat pada kutub.
• Garis lintang digambarkan dalam bentuk lingkaran yang konsentris mengelilingi kutub.
• Sudut antara garis bujur yang satu dengan lainnya pada peta besarnya sama.
• Seluruh permukaan bumi jika digambarkan dengan proyeksi ini akan berbentuk lingkaran.
Proyeksi Azimuthal dibedakan 3 macam, yaitu:
Ø Proyeksi Azimut Normal yaitu bidang proyeksinya menyinggung kutub.
Ø Proyeksi Azimut Transversal yaitu bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
Ø Proyeksi Azimut Oblique yaitu bidang proyeksinya menyinggung salah satu tempat antara kutub dan ekuator.

 

 

 

 

 

 

b. Proyeksi Kerucut (Conical Projection)

 
Proyeksi Kerucut yaitu pemindahan garisgaris meridian dan paralel dari suatu globe ke sebuah kerucut. Untuk proyeksi normalnya cocok untuk memproyeksikan daerah lintang tengah (miring). Proyeksi ini memiliki paralel melingkar dengan meridian berbentuk jari-jari. Paralel berwujud garis lingkaran sedangkan bujur berupa jari-jari.
Proyeksi kerucut dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
• Proyeksi kerucut normal atau standar
Jika garis singgung bidang kerucut pada bola bumi terletak pada suatu paralel (Paralel Standar).
• Proyeksi Kerucut Transversal
Jika kedudukan sumbu kerucut terhadap sumbu bumi tegak lurus.
• Proyeksi Kerucut Oblique (Miring)
Jika sumbu kerucut terhadap sumbu bumi terbentuk miring.

c. Proyeksi Silinder atau Tabung

 
Proyeksi Silinder adalah suatu proyeksi permukaan bola bumi yang bidang proyeksinya berbentuk silinder dan menyinggung bola bumi.
Apabila pada proyeksi ini bidang silinder menyinggung khatulistiwa, maka semua garis paralel merupakan garis horizontal dan semua garis meridian merupakan garis lurus vertikal.
Penggunaan proyeksi silinder mempunyai beberapa keuntungan yaitu:
• Dapat menggambarkan daerah yang luas.
• Dapat menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa.
• Daerah kutub yang berupa titik digambarkan seperti garis lurus.
• Makin mendekati kutub, makin luas wilayahnya.
Jadi keuntungan proyeksi ini yaitu cocok untuk menggambarkan daerah ekuator, karena ke arah kutub terjadi pemekaran garis lintang.
Proyeksi Azimuthal, proyeksi kerucut (conical) dan proyeksi silinder (cylindrical) termasuk kelompok proyeksi murni. Penggunaan jenis proyeksi-proyeksi murni ini sangat terbatas.

D. Proyeksi Gubahan (Proyeksi Arbitrary)
Proyeksi-proyeksi ini dipergunakan untuk menggambarkan peta-peta yang kita jumpai sehari-hari, merupakan proyeksi atau rangka peta yang diperoleh secara perhitungan.
Contoh-contoh proyeksi gubahan antara lain:
a) Proyeksi Bonne (Equal Area) Sifat-sifatnya sama luas. Sudut dan jarak benar pada meridian tengah dan pada paralel standar. Semakin jauh dari meridian tengah, bentuk menjadi sangat terganggu. Baik untuk menggambarkan Asia yang letaknya di sekitar khatulistiwa.
b) Proyeksi Sinusoidal
Pada proyeksi ini menghasilkan sudut dan jarak sesuai pada meridian tengah dan daerah khatulistiwa sama luas. Jarak antara meridian sesuai, begitu pula jarak antar paralel. Baik untuk menggambar daerah-daerah yang kecil dimana saja. Juga untuk daerah-daerah yang luas yang letaknya jauh dari khatulistiwa. Proyeksi ini sering dipakai untuk Amerika Selatan, Australia dan Afrika.
c) Proyeksi Mercator
Proyeksi Mercator merupakan proyeksi silinder normal konform, dimana seluruh muka bumi dilukiskan pada bidang silinder yang sumbunya berimpit dengan bola bumi, kemudian silindernya dibuka menjadi bidang datar.
Sifat-sifat proyeksi Mercator yaitu:
• Hasil proyeksi adalah baik dan betul untuk daerah dekat ekuator, tetapi distorsi makin membesar bila makin dekat dengan kutub.
• Interval jarak antara meridian adalah sama dan pada ekuator pembagian vertikal benar menurut skala.
• Interval jarak antara paralel tidak sama, makin menjauh dari ekuator, interval jarak makin membesar.
• Proyeksinya adalah konform.
• Kutub-kutub tidak dapat digambarkan karena terletak di posisi tak terhingga.
d) Proyeksi Mollweide
Pada proyeksi ini sama luas untuk berubah di pinggir peta.
e) Proyeksi Gall
Sifatnya sama luas, bentuk sangat berbeda pada lintang-lintang yang mendekati kutub.
f) Proyeksi Homolografik (Goode)
Sifatnya sama luas. Merupakan usaha untuk membetulkan kesalahan yang terjadi pada proyeksi Mollweide. Baik untuk menggambarkan penyebaran
Macam-macam Proyeksi Peta itu akan digunakan sesuai dengan kebutuhan keadaan dan proyeksi yang paling tepat digunakan,Misalny pada:
1) Seluruh Dunia
• Dalam dua belahan bumi dipakai Proyeksi Zenithal kutub
• Peta-peta statistik (penyebaran penduduk, hasil pertanian) pakai Mollweide
• Arus laut, iklim pakai Mollweide atau Gall
• Navigasi dengan arah kompas tetap, hanya Mercator
2. Daerah Kutub
• Proyeksi Lambert
• Proyeksi Zenithal sama jarak
3. Daerah Belahan Bumi Selatan
• Sinusoidal
• Lambert
• Bonne
4. Untuk Daerah yang lebar ke samping tidak jauh dari Khatulistiwa
• Pilih satu dari jenis proyeksi kerucut.
• Proyeksi apapun sebenarnya dapat dipakai

Aglomerasi Industri

AGLOMERASI INDUSTRI

 

1. Pengertian Aglomerasi Industri

 

Aglomerasi Industri yaitu pemusatan industri di suatu kawasan tertentu dengan tujuan agar pengelolanya dapat optimal.

Proses aglomerasi (pemusatan) industri keberhasilannya banyak ditentukan oleh faktor teknologi lingkungan, produktivitas, modal, SDM, manajemen dan lain-lain.

Pada Negara-negara yang sedang mengalami aglomerasi industri, terdapat dualisme bidang teknologi. Dualisme teknologi adalah suatu keadaan dalam suatu bidan ekonomi tertentu yang menggunakan tehnik dan organisasi produksi yang sangat berbeda karakteristiknya. Kondisi ini mengakibatkan perbedaan besar pada tingkat produktivitas di sektor modern dan sektor tradisional, seperti keadaan berikut ini :

a.       Jumlah penggunaan modal dan peralatan yang digunakan.

b.       Penggunaan pengetahuan teknik, organisasi, dan manajemen.

c.       Tingkat pendidikan dan keterampilan para pekerja.

Faktor-faktor ini menyebabkan tingkat produktivitas berbagai kegiatan sektor modern sering kali tidak banyak berbeda dengan kegiatan yang sama yang terdapat di Negara maju. Sebaliknya sektor tradisional menunjukkan perbedaan banyak karena keadaan sebagai berikut :

a.       Terbatasnya pembentukan modal dan peralatan industri.

b.       Kekurangan pendidikan dan pengetahuan.

c.       Penggunaan teknik produksi yang sederhana.

d.       Organisasi produksi yang masih tradisional.

 

Aglomerasi dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

  •  Aglomerasi primer adalah perusahaan yang baru muncul tidak ada hubungannya dengan perusahaan lama yang sudah terdapat di wilayah aglomerasi,
  • Aglomerasi sekunder jika perusahaan yang baru beroperasi adalah perusahaan yang memiliki tujuan untuk memberi pelayanan pada perusahaan yang lama.

Terdapat 3 jenis aglomerasi, yaitu :
• Internal return to scale, timbul karena perusahaan memiliki skala ekonomi yang besar,
• Lokalisasi ekonomi, terjadi pada satu kelompok perusahaan dalam satu industri yang sejenis yang terletak pada lokasi yang sama,
• Urbanisasi Ekonomi, timbul pada perusahaan-perusahaan dari sektor industri yang berbeda-beda yang mengelompok di lokasi yang sama.

 

Hubungan antar Industri secara Fungsional dapat ditunjukkan melalui 3 hubungan, berikut ini:

  • Hubungan produksi (Production Linkages)
    Hubungan ini merupakan hubungan hasil porduksi dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Dengan kata lain, terdapat arus barang yang bergerak dari tempat produksi 1 ke tempat produksi lain untuk diolah kembali atau dikemas dalam bentuk lain. Misalnya, pabrik benang menggerakkan produksinya ke pabrik kain.
  • Hubungan pelayanan (Service Lingkage)
    Perusahaan pasti membutuhkan layanan jasa yang berhubungan dengan perusahaan lain. Sebagai contoh, perusahaan membutuhkan jasa akuntan publik dari perusahaan akuntan untuk menghitung kekayaan perusahaan. Atau pelayanan sederhana seperti kerjasama dengan CV pelayanan kebersihan.
  • Hubungan pemasaran (market Linkages)
    Hubungan pemasaran akan melibatkan bagian yang terpisah, yaitu bagian yang bekerja sebagai penjual atau distributor hasil produksi dari sebuah industri. Atau dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara perusahaan yang akan membuat kemasan, para tengkulak, dan agen-agen penjualan. Hubungan ini sangat penting karena berkaitan dengan hilir dari suatu barang produksi sebuah industri.

 

 

Penempatan aglomerasi industri harus memperhatikan banyak hal, diantaranya adalah modal, teknologi, bahan baku, transportasi, tenaga kerja, manajemen, pasar dan infrastruktur. Transportasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendirikan industri maupun pemekaran wilayah industri yang erat kaitannya dengan aglomerasi. Keadaan transportasi meliputi jaringan jalan dan sarana transportasi yang memadai sehingga dapat mendukung kelancaran proses produksi dan distribusi. Adanya sarana dan prasarana transportasi yang memadai tentunya akan lebih mempermudah perusahaan untuk mengangkut bahan baku ke pabrik dan mendistribusikannya ke pasar. Oleh karena itu transportasi merupakan alasan utama untuk mendirikan industri di sepanjang jalan, pelabuhan, dan station kereta. Lokasi-lokasi pada daerah ini dapat mengurangi biaya produksi dari segi transportasi.

Jika terdapat istilah aglomerasi, yaitu pengelompokan, ada pula istilah deglomerasi, yaitu suatu kecenderungan perusahaan untuk memilih lokasi usaha yang terpisah dari kelompok lokasi perusahaan lain.
Pemicu lahirnya perusahaan-perusahaan yang melakukan deglomerasi adalah:
• Harga buruh yang semakin meningkat di daerah padat industri
• Penyempitan luas tanah yang dapat digunakan karena sudah banyak dipakai untuk perumahan dan kantor pemerintah.
• Harga tanah yang semakin tinggi di daerah yang telah padat.
• Sarana dan Prasarana di daerah lain semakin baik namun harga tanah dan upah buruh masih rendah.

 

 

2. Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri

Akibat adanya keterbatasan dalam pemilihan lokasi yang ideal maka sangat dimungkinkan akan munculnya pemusatan atau terkonsentrasinya industri pada suatu wilayah tertentu yang dikenal dengan istilah aglomerasi industri.
Misalnya, industri garmen, industri konveksi, dan industri kerajinan dibangun di suatu tempat yang berdekatan dengan pusat pemukiman penduduk; Industri berat yang memerlukan bahan mentah, seperti batu bara dan besi baja, penentuan lokasi pabriknya cenderung mendekati sumber bahan mentah.
Pemusatan industri dapat terjadi pada suatu tempat terkonsentrasinya beberapa faktor yang dibutuhkan dalam kegiatan industri. Misalnya bahan mentah, energi, tenaga kerja, pasar, kemudahan dalam perizinan, pajak yang relatif murah, dan penanggulangan limbah merupakan pendukung aglomerasi industri.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, penyebab terjadinya aglomerasi industri antara lain:
1. terkonsentrasinya beberapa faktor produksi yang dibutuhkan pada suatu lokasi;
2. kesamaan lokasi usaha yang didasarkan pada salah satu faktor produksi tertentu;
3. adanya wilayah pusat pertumbuhan industri yang disesuaikan dengan tata ruang dan fungsi wilayah;
4. adanya kesamaan kebutuhan sarana, prasarana, dan bidang pelayanan industri lainnya yang lengkap;
5. adanya kerja sama dan saling membutuhkan dalam menghasilkan suatu produk.

Model aglomerasi industri yang berkembang akhir-akhir ini, dapat dikategorikan menguntungkan, di antaranya adalah:

  1.  mengurangi pencemaran atau kerusakan lingkungan, karena terjadi pemusatan kegiatan sehingga memudahkan dalam penanganannya;
  2.  mengurangi kemacetan di perkotaan, karena lokasinya dapat disiapkan di sekitar pinggiran kota;
  3.  memudahkan pemantauan dan pengawasan, terutama industri yang tidak mengikuti ketentuan yang telah disepakati;
  4.  tidak mengganggu rencana tata ruang;
  5.  dapat menekan biaya transportasi dan biaya produksi serendah mungkin.

Di dalam aglomerasi industri dikenal istilah kawasan industri atau sering disebut industrial estate, yaitu suatu kawasan atau tempat pemusatan kegiatan industri pengolahan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana, misalnya: lahan dan lokasi yang strategis. Selain itu, terdapat pula fasilitas penunjang lain, misalnya listrik, air, telepon, jalan, dan tempat pembuangan limbah, yang telah disediakan oleh perusahaan pengelola kawasan industri.

Tujuan dibentuknya suatu kawasan industri (aglomerasi yang disengaja), antara lain:
1. untuk mempercepat pertumbuhan industri,
2. memberikan kemudahan bagi kegiatan industri,
3. mendorong kegiatan industri agar terpusat dan berlokasi di kawasan tersebut, dan
4. menyediakan fasilitas lokasi industri yang berwawasan lingkungan.
Misalnya: beberapa kawasan industri di Indonesia, antara lain Medan, Cilegon (Banten), Pulogadung (Jakarta), Cikarang (Bekasi), Cilacap (Jateng), Rungkut (Surabaya), dan Makassar.

Selain kawasan industri, dikenal juga istilah kawasan berikat (Bonded zone). Kawasan berikat (Bonded zone) merupakan suatu kawasan dengan batas tertentu di dalam wilayah pabean yang di dalamnya diberlakukan ketentuan khusus di bidang pabean. Ketentuan tersebut antara lain mengatur lalu lintas pabean dari luar daerah atau dari dalam pabean Indonesia lainnya tanpa terlebih dahulu dikenakan bea cukai atau pungutan negara lainnya, sampai barang tersebut dikeluarkan untuk tujuan impor atau ekspor.
Kawasan berikat berfungsi sebagai tempat penyimpanan, penimbunan, dan pengolahan barang yang berasal dari dalam atau luar negeri. Contoh kawasan berikat, yaitu PT Kawasan Berikat Indonesia meliputi Tanjung Priok, Cakung, dan Batam.

Sedikitnya ada empat jenis keterkaitan yang menyebabkan terjadinya industri berikat, yaitu:
1. keterkaitan produk;
2. keterkaitan jasa;
3. keterkaitan proses;
4. keterkaitan subkontrak.
Sebagai contoh industri berikat yaitu industri garmen. Dalam hal ini industri garmen sebagai industri utamanya. Sedangkan di sekitar industri garmen tersebut akan dikelilingi oleh industri-industri lain yang berfungsi sebagai penunjang, misalnya: industri tekstil, industri kancing, reslasting, dan asesoris
lainnya.

Industri Indonesia

1. Pengertian Industri

Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Dengan demikian, industri merupakan bagian dari proses produksi. Bahan-bahan industri diambil secara langsung maupun tidak langsung, kemudian diolah, sehingga menghasilkan barang yang bernilai lebih bagi masyarakat.

Kegiatan proses produksi dalam industri itu disebut dengan perindustrian.
Dari definisi tersebut, istilah industri sering disebut sebagai kegiatan manufaktur (manufacturing). Padahal, pengertian industri sangatlah luas, yaitu menyangkut semua kegiatan manusia dalam bidang ekonomi yang sifatnya produktif dan komersial. Karena merupakan kegiatan ekonomi yang luas maka jumlah dan macam industri berbeda-beda untuk tiap negara atau daerah.

Pada umumnya, makin maju tingkat perkembangan perindustrian di suatu negara atau daerah, makin banyak jumlah dan macam industri, dan makin kompleks pula sifat kegiatan dan usaha tersebut. Cara penggolongan atau pengklasifikasian industri pun berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya, pengklasifikasian industri didasarkan pada kriteria yaitu berdasarkan bahan baku, tenaga kerja, pangsa pasar, modal, atau jenis teknologi yang digunakan. Selain faktor-faktor tersebut, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara juga turut menentukan keanekaragaman industri negara tersebut, semakin besar dan kompleks kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi, maka semakin beranekaragam jenis industrinya.

Istilah industrialisasi secara ekonomi juga diartikan sebagai himpunan perusahaan-perusahaan sejenis dimana kata industri dirangkai dengan kata yang menerangkan jenis industrinya. Misalnya, industri obat-obatan, industri garmen, industri perkayuan, dan sebagainya

A.PENGERTIAN INDUSTRI
            Industri berasal dari industria yang diartikan sebagai kegiatan ekonomi bagian dari proses produksi, yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku atau bahan baku menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Dari sudut pandang geografi industri merupakan perpaduan-perpaduan subsistem fisis dengan subsistem manusia. Subsistem fisis yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan industri, yaitu meliputi komponen-komponen lahan, bahan mentah atau bahan baku, sumber-sumber energi dan iklim dengan segala proses ilmiahnya. Sedangkan subsistem manusianya meliputi komponen-komponen tenaga kerja, kemampuan tekhnologi, tradisi, keadaan politik, keadaan pemerintahan, transportasi dan komunikadi, konsumen, pasar dan sebagainya, sehingga menjadi barang yang bernilai bagi masyarakat.

Ada beberapa penjelasan tentang pengertian industri.
1) Industri berasal dari bahasa latin yaitu industria yang artinya buruh(tenaga kerja) dan industrios yang artinya kerja keras.
2) Industri artinya bagian dari proses produksi dimana yidak mengambil langsung dari alam untuk dikonsumsi, tetapi bahan-bahan itu diolah lebih dahulu sehingga menjadi barang yang berguna bagi masyarakat.
3) Menurut Encyclopedia Americana, industri diartikan sekelompok kegiatan yang mengusahakan benda-benda ekonomi dan penggunaanya.
4) Industri dalam arti sempit ialah kegiatan industri yang hanya terbatas pada tipe kegiatan ekonomi sekunder yaitu segala macam usaha atau kegiatan yang sifatnya mengubah atau mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.
5) Industri dalam arti luas adalah suatu kegiatan dalam usahanya untuk meningkatkan produktifitas dalam kegiatan ekonomi.
6) Mnurut G.T. Rennes, industri adalah aktifitas ekonomi manusia yang dilaksanakan secara terorganisasi dan sistematis.
7) Menurut UU RI No.5 Tahun 1984, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi atau barang jadi menjadi barang dengan nilai lebih atau barang jadi menjadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.

Menurut Roswto pertumbuhan dan perkembangan industri dibedakan menjadi 5 tahap, yaitu:

1) The traditional society (masyarakat tradisional)
Suatu masyarakat yang strukturnya dibangun dalam fungsi terbatas, ilmu pengetahuan dan tekhnologi sangat sedrhana dan berenghasilan rendah.
2) The Precondition for take off (pra kondisi menuju tinggal landas)
Merupakan bentuk masyarakat dalam masa peralihan. Nilai dan cara-cara tradisional mulai dirasakan tidak cocok. Sedangkan nilai-nilai baru muncul dan sangat dibutuhkan. Secara perlahan perubahan-perubahan pun mulai terjadi.
3) Take off (masa tinggal landas)
Merupakan masa dimana berbagai kendala terhadap pertumbuhan sudah dapat diatasi. Niali-nilai dan terobosan baru yang jelas dapat menimbulkan kemajuan masyarakat yang makin luas.
4) The drive to maturity (menju ke arah kedewasaan)
Tahap menuju kedewasaan atau kematangan adalah suatu tahap kegiatan perekonomian yang tumbuh secara terus menerus. Produktivitas dari keguatan industri sangat berarti menentukan pendapatan nasional.
5) The age of high masa concumtion (suatu masa masyarakat berkonsumsi tinggi)
Masa konsumsi tinggi ditandai dengan adanya perkembangan kegiatan industri lebih ditujukan untuk menghasilkan barang-barang konsumsi yang tahan lama.

II. KLASIFIKASI  INDUSTRI

1. Klasifikasi Industri berdasarkan Bahan Baku

Tiap-tiap industri membutuhkan bahan baku yang berbeda, tergantung pada apa yang akan dihasilkan dari proses industri tersebut. Berdasarkan bahan baku yang digunakan, industri dapat dibedakan menjadi :

  • Industri ekstraktif, yaitu industri yang bahan bakunya diperoleh langsung dari alam. Misalnya: industri hasil pertanian, industri hasil perikanan, dan industri hasil kehutanan
  • Industri nonekstraktif, yaitu industri yang mengolah lebih lanjut hasilhasil industri lain. Misalnya: industri kayu lapis, industri pemintalan, dan industri kain.
  • Industri fasilitatif atau disebut juga industri tertier. Kegiatan industrinya adalah dengan menjual jasa layanan untuk keperluan orang lain. Misalnya: perbankan, perdagangan, angkutan, dan pariwisata.

2. Klasifikasi Industri berdasarkan Tenaga Kerja
Berdasarkan jumlah tenaga kerja yang digunakan, industri dapat dibedakan menjadi:

  • Industri rumah tangga, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja kurang dari empat orang. Ciri industri ini memiliki modal yang sangat terbatas, tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya. Misalnya: industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe/ tahu, dan industri makanan ringan.
  • Industri kecil, yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 sampai 19 orang, Ciri industri kecil adalah memiliki modal yang relative kecil, tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada hubungan saudara. Misalnya: industri genteng, industri batubata, dan industri pengolahan rotan.
  • Industri sedang, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja sekitar 20 sampai 99 orang. Ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup besar, tenaga kerja memiliki keterampilan tertentu, dan pimpinan perusahaan memiliki kemapuan manajerial tertentu. Misalnya: industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.
  • Industri besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang. Ciri industri besar adalah memiliki modal besar yang dihimpun secara kolektif dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus memiliki keterampilan khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji kemapuan dan kelayakan (fit and profer test). Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.

3. Klasifikasi Industri berdasarkan Produksi yang dihasilkan

Berdasarkan produksi yang dihasilkan, industri dapat dibedakan menjadi:

  • Industri primer, yaitu industri yang menghasilkan barang atau benda yang tidak perlu pengolahan lebih lanjut. Barang atau benda yang dihasilkan tersebut dapat dinikmati atau digunakan secara langsung. Misalnya: industri anyaman, industri konveksi, industri makanan dan minuman.
  • Industri sekunder, yaitu industri yang menghasilkan barang atau benda yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut sebelum dinikmati atau digunakan. Misalnya: industri pemintalan benang, industri ban, industri baja, dan industri tekstil.
  • Industri tertier, yaitu industri yang hasilnya tidak berupa barang atau benda yang dapat dinikmati atau digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung, melainkan berupa jasa layanan yang dapat mempermudah atau membantu kebutuhan masyarakat. Misalnya: industri angkutan, industri perbankan, industri perdagangan, dan industri pariwisata.

4. Klasifikasi Industri berdasarkan Bahan Mentah
Berdasarkan bahan mentah yang digunakan, industri dapat dibedakan menjadi:

  • Industri pertanian, yaitu industri yang mengolah bahan mentah yang diperoleh dari hasil kegiatan pertanian. Misalnya: industri minyak goreng, Industri gula, industri kopi, industri teh, dan industri makanan.
  • Industri pertambangan, yaitu industri yang mengolah bahan mentah yang berasal dari hasil pertambangan. Misalnya: industri semen, industri baja, industri BBM (bahan bakar minyak bumi), dan industri serat sintetis.
  • Industri jasa, yaitu industri yang mengolah jasa layanan yang dapat mempermudah dan meringankan beban masyarakat tetapi menguntungkan. Misalnya: industri perbankan, industri perdagangan, industri pariwisata, industri transportasi, industri seni dan hiburan.

5. Klasifikasi Industri berdasarkan Lokasi Unit Usaha
Keberadaan suatu industri sangat menentukan sasaran atau tujuan kegiatan industri. Berdasarkan pada lokasi unit usahanya, industri dapat dibedakan menjadi:

  • Industri berorientasi pada pasar (market oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati daerah persebaran konsumen.
  • Industri berorientasi pada tenaga kerja (employment oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati daerah pemusatan penduduk, terutama daerah yang memiliki banyak angkatan kerja tetapi kurang pendidikannya.
  • Industri berorientasi pada pengolahan (supply oriented industry), yaitu industri yang didirikan dekat atau ditempat pengolahan. Misalnya: industri semen di Palimanan Cirebon (dekat dengan batu gamping), industri pupuk di Palembang (dekat dengan sumber pospat dan amoniak), dan industri BBM di Balongan Indramayu (dekat dengan kilang minyak).
  • Industri berorientasi pada bahan baku, yaitu industri yang didirikan di tempat tersedianya bahan baku. Misalnya: industri konveksi berdekatan dengan industri tekstil, industri pengalengan ikan berdekatan dengan pelabuhan laut, dan industri gula berdekatan lahan tebu.
  • Industri yang tidak terikat oleh persyaratan yang lain (footloose industry), yaitu industri yang didirikan tidak terikat oleh syarat-syarat di atas. Industri ini dapat didirikan di mana saja, karena bahan baku, tenaga kerja, dan pasarnya sangat luas serta dapat ditemukan di mana saja. Misalnya: industri elektronik, industri otomotif, dan industri transportasi.

6. Klasifikasi industri berdasarkan proses produksi

Berdasarkan proses produksi, industri dapat dibedakan menjadi:

  • Industri hulu, yaitu industri yang hanya mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanya menyediakan bahan baku untuk kegiatan industri yang lain. Misalnya: industri kayu lapis, industri alumunium, industri pemintalan, dan industri baja.
  • Industri hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi sehingga barang yang dihasilkan dapat langsung dipakai atau dinikmati oleh konsumen. Misalnya: industri pesawat terbang, industri konveksi, industri otomotif, dan industri meubeler.

7. Klasifikasi industri berdasarkan barang yang dihasilkan
            Berdasarkan barang yang dihasilkan, industri dapat dibedakan menjadi

  • Industri berat, yaitu industri yang menghasilkan mesin-mesin atau alat produksi lainnya. Misalnya: industri alat-alat berat, industri mesin, dan industri percetakan.
  • Industri ringan, yaitu industri yang menghasilkan barang siap pakai untuk dikonsumsi. Misalnya: industri obat-obatan, industri makanan, dan industri minuman.

 

8. Klasifikasi industri berdasarkan modal yang digunakan
Berdasarkan modal yang digunakan, industri dapat dibedakan menjadi:

  • Industri dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN), yaitu industri yang memperoleh dukungan modal dari pemerintah atau pengusaha nasional (dalam negeri). Misalnya: industri kerajinan, industri pariwisata, dan industri makanan dan minuman.
  • Industri dengan penanaman modal asing (PMA), yaitu industri yang modalnya berasal dari penanaman modal asing. Misalnya: industri komunikasi, industri perminyakan, dan industri pertambangan.
  • Industri dengan modal patungan (join venture), yaitu industri yang modalnya berasal dari hasil kerja sama antara PMDN dan PMA. Misalnya: industri otomotif, industri transportasi, dan industri kertas.

9. Klasifikasi Industri berdasarkan subjek pengelola    

Berdasarkan subjek pengelolanya, industri dapat dibedakan menjadi:

  • Industri rakyat, yaitu industri yang dikelola dan merupakan milik rakyat, misalnya: industri meubeler, industri makanan ringan, dan industri kerajinan
  • Industri negara, yaitu industri yang dikelola dan merupakan milik Negara yang dikenal dengan istilah BUMN, misalnya: industri kertas, industri pupuk,
  • industri baja, industri pertambangan, industri perminyakan, dan industri transportasi.

10. Klasifikasi Industri berdasarkan cara pengorganisasian

Cara pengorganisasian suatu industri dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti: modal, tenaga kerja, produk yang dihasilkan, dan pemasarannya. Berdasarkan cara pengorganisasianya, industri dapat dibedakan menjadi:

  • Industri kecil, yaitu industri yang memiliki ciri-ciri: modal relatif kecil, teknologi sederhana, pekerjanya kurang dari 10 orang biasanya dari kalangan keluarga, produknya masih sederhana, dan lokasi pemasarannya masih terbatas (berskala lokal). Misalnya: industri kerajinan dan industri makanan ringan.
  • Industri menengah, yaitu industri yang memiliki ciri-ciri: modal relative besar, teknologi cukup maju tetapi masih terbatas, pekerja antara 10-200 orang, tenaga kerja tidak tetap, dan lokasi pemasarannya relative lebih luas (berskala regional). Misalnya: industri bordir, industri sepatu, dan industri mainan anak-anak.
  • Industri besar, yaitu industri yang memiliki ciri-ciri: modal sangat besar, teknologi canggih dan modern, organisasi teratur, tenaga kerja dalam jumlah banyak dan terampil, pemasarannya berskala nasional atau internasional. Misalnya: industri barang-barang elektronik, industri otomotif, industri transportasi, dan industri persenjataan.

11. Klasifikasi Industri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian

Selain pengklasifikasian industri tersebut di atas, ada juga pengklasifikasian industri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 19/M/ I/1986 yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Adapun pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut:

  • Industri Kimia Dasar (IKD)
    Industri Kimia Dasar merupakan industri yang memerlukan: modal yang besar, keahlian yang tinggi, dan menerapkan teknologi maju. Adapun industri yang termasuk kelompok IKD adalah sebagai berikut:
    1) Industri kimia organik, misalnya: industri bahan peledak dan industri bahan kimia tekstil.
    2) Industri kimia anorganik, misalnya: industri semen, industri asam sulfat, dan industri kaca.
    3) Industri agrokimia, misalnya: industri pupuk kimia dan industri pestisida.
    4) Industri selulosa dan karet, misalnya: industri kertas, industri pulp, dan industri ban.
  • Industri Mesin Logam Dasar dan Elektronika (IMELDE)
    Industri ini merupakan industri yang mengolah bahan mentah logam menjadi mesin-mesin berat atau rekayasa mesin dan perakitan. Adapun yang termasuk industri ini adalah sebagai berikut:
    1) Industri mesin dan perakitan alat-alat pertanian, misalnya: mesin traktor, mesin hueler, dan mesin pompa.
    2) Industri alat-alat berat/konstruksi, misalnya: mesin pemecah batu, buldozer, excavator, dan motor grader.
    3) Industri mesin perkakas, misalnya: mesin bubut, mesin bor, mesin gergaji, dan mesin pres.
    4) Industri elektronika, misalnya: radio, televisi, dan komputer.
    5) Industri mesin listrik, misalnya: transformator tenaga dan generator.
    6) Industri keretaapi, misalnya: lokomotif dan gerbong.
    7) Industri kendaraan bermotor (otomotif), misalnya: mobil, motor, dan suku cadang kendaraan bermotor.
    8) Industri pesawat, misalnya: pesawat terbang dan helikopter.
    9) Industri logam dan produk dasar, misalnya: industri besi baja, industri alumunium, dan industri tembaga.
    10) Industri perkapalan, misalnya: pembuatan kapal dan reparasi kapal.
    11) Industri mesin dan peralatan pabrik, misalnya: mesin produksi, peralatan pabrik, the blower, dan kontruksi.
  • Aneka Industri (AI)
    Industri ini merupakan industri yang tujuannya menghasilkan bermacammacam barang kebutuhan hidup sehari-hari. Adapun yang termasuk industri ini adalah sebagai berikut:
    1) Industri tekstil, misalnya: benang, kain, dan pakaian jadi.
    2) Industri alat listrik dan logam, misalnya: kipas angin, lemari es, dan mesin jahit, televisi, dan radio.
    3) Industri kimia, misalnya: sabun, pasta gigi, sampho, tinta, plastik, obatobatan, dan pipa.
    4) Industri pangan, misalnya: minyak goreng, terigu, gula, teh, kopi, garam dan makanan kemasan.
    5) Industri bahan bangunan dan umum, misalnya: kayu gergajian, kayu lapis, dan marmer
  • Industri Kecil (IK)
    Industri ini merupakan industri yang bergerak dengan jumlah pekerja sedikit, dan teknologi sederhana. Biasanya dinamakan industri rumah tangga, misalnya: industri kerajinan, industri alat-alat rumah tangga, dan perabotan dari tanah (gerabah).
  • Industri pariwisata
    Industri ini merupakan industri yang menghasilkan nilai ekonomis dari kegiatan wisata. Bentuknya bisa berupa: wisata seni dan budaya (misalnya: pertunjukan seni dan budaya), wisata pendidikan (misalnya: peninggalan, arsitektur, alat-alat observasi alam, dan museum geologi), wisata alam (misalnya: pemandangan alam di pantai, pegunungan, perkebunan, dan kehutanan), dan wisata kota (misalnya: melihat pusat pemerintahan, pusat perbelanjaan, wilayah pertokoan, restoran, hotel, dan tempat hiburan).

III. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEGIATAN INDUSTRI

            Berdirinya industri baik yang berskala besar atau kecil tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor itu meliputi faktor ekonomis, historis, manusia, politis dan geografis. Pada kegiatan ekonomi sekunder yaitu industri manufaktur, akan nampak adanya tiga usaha dan kegiatan pokok yang satu sama lain saling berkaitan erat , yaitu: Usaha-usaha pengumpulan dan pengambilan bahan mentah, kegiatan pengolahan, dan usaha-usaha pemasaran hasilnya. Usaha tersebut akan berhasil dan menghasilkan produk suatu industri jga memerlukan enam jenis masukan/input, keenam masukan ini diproses secara efisien, efektif dan produktif umtuk kemudian berubah menjadi keluaran/output .

Keenam masukan itu adalah :

  • Sumber daya alam, baik yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui. Sumber daya alam akan mengalami tahap-tahap perubahan oleh perusahaan yang berbeda. Secara umum, sumber daya alam ini bisanya menjadi bahan yang diubah oleh proses produks, sehingga sering disebut bahan mentah atau bahan baku.
  • Modal, yang bisa berarti dua hal yaitu membayar upah pekerja, bayar listrik dan beli bahan baku. Disamping itu, modal juga berarti barang-barang berupa tanah, gedung, mesin, dan alat-alat produksi lainnya.
  • Tenaga kerja, merupakan faktor manusia yang akan menjalankan mesin, menangani bahan, mengatur produksi dan sebagainya. Tanpa tenaga kerja, semua yang lain tidak akan berarti apa-apa, karena tidak ada yang merencanakan, mengoperasikan dan mengendalikan aktifitas produksi tersebut.
  • Manajemen. Yaitu ilmu tentang cara-cara mengolola masukan-masukan untuk industri dan kumpulan orang yang mempraktekan ilmu ini. Manajemen biasanya dibedakan dari tenaga kerja. Tenaga kerja lebih dimaksudkan sebagai orang-orang yang melaksanakan perintah-perintah atau pengaturan-pengaturan aktifitas oleh manajemen.
  • Teknologi, yaiut ilmu tentang pemanfaatan sains menjadi alat/sarana hidup, sarana prodksi dan sebagainya. Teknik adalah bagiandari teknologi.
  • Moral, yaitu terdapat dalam diri manusia, baik yang berposisi sebagai tenaga kerja maupun manajemen, unsur inilah yang memberikan dorongan/semangat/motivasi untuk bekerja dengan rajin sungguh-sungguh dan teliti. Tanpa moral yang baik,unsur manusia didalam industri akan menyalahgunakan sumber daya alam, menggunakan teknologi untuk tujuan yang salah dan menghasilkan produk yang tidak baik yang akhirnya merugikan konnsumen.

Smith (1963: 414-417) menggolongkan syarat dan faktor-faktor yang mempengaruhi usaha dan kegiatan industri atas 4 kelompok. Yaitu faktor-faktor sumber daya, faktor-faktor sosial, faktor-faktor ekonomi dan faktor-faktor yang menyangkut kebijakan pemerintah. Adalah sebagai berikut :

1) Faktor Sumber Daya

  1. Bahan Mentah

Bahan mentah dalam industri merupakan hal yang terpenting diantara sumber daya. Bahan mentah ini dapat berasal dari sektor primer, hasil-hasil pertanian, perternakan, perikanan, kehutanan dan pertambangan, dan dapat pula juga berupa produk industri-industri lain. Usaha-usaha pengumpulan dan pengambilan bahan mentah erat hubungannya dengan daerah sumber bahan mentah, sehingga banyak usaha-usaha industri didirikan atau ditempatkandidaerah atau mendekati sumber bahan mentah tersebut. Satu hal terpenting adalah bahan mentah atau bahan baku tersebutmudah didapatkan atau didatangkan secara ekonomis.

  1. Sumber Energi

Industri yang modern tidak akan berdiri dan berjalan mulus tanpa adanya sumber energi yang menunjang, karena semakin mordern perindustrian disuatu daerah makin tinggi tingkat konsumsi energinya. Sumber energi yang digunakan dalam perindustrian antara lain adalah : minyak bumi, batu bara, gas alam, tenaga listrik, nuklir, kayu, dan lain-lain

  1. Penyediaan Air

Air didalam industri memiliki fungsi sebagai bahan pendingin mesin dan sebagai bahan pencampur dan pencuci. Sehingga penempatan industri harus benar-benar memperhatikan kemungkinan persediaan air.

  1. Iklim dan Bentuk Lahan

Bentuk lahan atau Landfrom dapat berpengaruh terhadap penempatan dan lokasi industri, baik terhadap bangunan industri maupun kemungkinan pembuatan prasarana lalu lintas angkutan. Sedangkan iklim, dengan perkembangan teknologi yang modern dalam perindustrian, faktor iklim tidak lagi menjadi penentu, namun masih banyak industri yang ditentukan oleh keadaan iklimnya.

  1. 1.  Faktor-faktor Sosial
    1. Penyediaan Tenaga Kerja

Adanya kualitas dan kuantitas tenaga kerja sangat mempengaruhi proses produksi dan distribusi. Untuk itu dalam penyediaan tenaga kerja ini tergantung pada jumlah tenaga kerja yang tersedia dan tingkat upah yang berlaku didaerah kawasan industri tersebut. Pada umumnya penempatan industri berkaitan erat dengan konsentarsi penduduk dan upah yang rendah.

  1. Skill dan Kemampuan Teknologi.

Berdirinya suatu industri yang modern tentunya ditunjang dengan mesin-mesin modern dan produksi massal yang memerlukan tenaga-tenaga kerja yang terampil dan skill yang tinggi serta propesional.

  1. Kemampuan Mengorganisasi.

Adanya pengalaman dalam berorganisasi memberikan pengaruh yang cukup penting dalam suatu kinerja kerja. Makin kompleks suatu industri, makin kompleks pula pengorganisasiannya. Oleh karena itu diperlukan tenaga kerja yang berkemampuan tinggi untuk pengorganisasiannya. Dalam hal ini mengawas dan operasional.

  1. 2.  Faktor-Faktor Ekonomi
    1. Pemasaran.

Pemasaran sama pentingnya dengan bahan mentah dan sumber energi dalam hal pengaruhnya terhadap aktifitas dan perkembangan ekonomi, yang lebih ditekankan pada pemasarannya. Karena industri hakekatnya usaha untuk mencari keuntungan dan ini diperoleh hanya jika ada pemasaran. Potensi pemasaran sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan daya belinya. Makin tinggi daya beli dan makin besar jumlah penduduk, berarti makin besar petensi pasar.

  1. Transportasi.

Sarana transportasi dari segi aksebilitas jalan, kondisi kendaraan serta ongkos pengiriman, merupakan hal yang sangat penting artinya bagi industri, sebab bagaimanapun juga bahan mentah harus diangkut dan hasilnya hars dipasarkan.

  1. Modal.

Dalam hal ini kita mengenal dua macam modal, modal dalam negeri dan modal luar negeri. Selain itu sumber modal juga berasal dari individu, perbankan, investor, penduduk daerah atau negara dari pajak-pajak rertribusi, hasil –hasil perusahaan negara, tabungan negara dan penanaman modal dan sebagainya. Modal ini sangat diperlukan dan salah satu hal yang penting. Beberapa macam ibndustri kadang-kadang memerlukan modal besar sehingga hanya perusahaan-perusahaan besar saja yang dapat memberikan atau menyediakan modalnya.

  1. Nilai dan Harga Tanah.

Harga tanah yang tinggi di pusat-pusat perkotaan mendorong usaha-usaha industri ditempatkan di daerah-daerah pinggiran. Hal ini disebabkan karena pajak yaqng berbeda-beda sehingga mendorong para pendiri industri mencara tempat dipinggiran kota yang tarif pajaknya rendah

  1. 3.  Faktor Kebijaksanaan Pemerintah.

Faktor pemerintah yang mempengaruhi usaha dan perkembangan industri adalah: ketentuan-ketenjuan perpajakan dan tarif, pembatasan ekspor-impor, pembatasan jumlah dan macam industri, penentuan daerah industri dan pengembangan kondisi yang menguntukan usaha

IV. PENENTUAN LOKASI INDUSTRI

Menentukan Lokasi Industri

Pemilihan lokasi industri mempunyai arti sangat penting. Hal ini karena lokasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kontinuitas proses dan kegiatan industri. Tujuan dari penentuan lokasi industri adalah untuk memperbesar keuntungan dengan menekan biaya produksi dan meraih pasar yang luas.
a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendirian Industri
Faktor-faktor untuk menentukan lokasi industri suatu industri dapat dibedakan menjadi dua macam:
1) Faktor pokok meliputi lokasi bahan baku, sumber tenaga kerja, biaya angkutan, daerah pemasaran dan sumber energi.
2) Faktor tambahan, meliputi iklim, kebijaksanaan pemerintah di bidang industri dan ketersediaan air.
b. Teori Lokasi Industri
Teori lokasi muncul untuk menentukan lokasi yang terbaik secara ekonomis bagi suatu industri.
1) Teori lokasi industri dari Weber
Teori lokasi industri dari Webber dikenal dengan sebutan least cost location. Isi pokok teori Webber adalah lokasi industri dipilihkan di tempat-tempat yang biayanya paling minimal.
2) Teori lokasi industri optimal dari Losch
Teori lokasi optimal dari Losch berdasarkan permintaan. Menurut Losch, lokasi optimal suatu industri adalah lokasi yang dapat menguasai wilayah pemasaran terluas.
3) Analisis wilayah pasar model Hotteling
Tujuan pasar model Hotteling adalah menganalisis strategi lokasi dua industri yang bersaing di pasar. Menurut Hotteling elastisitas permintaan akan mendorong difusi industri.
4) Pendekatan Perilaku menurut Pred
Pred menyusun matrik perilaku yang dapat digunakan untuk menganalisis pengambilan keputusan tentang berbagai lokasi. Pada prinsipnya, lokasi industri menurut Pred ditentukan berdasarkan perilaku pengambilan keputusan.

Menentukan lokasi industri atas dasar bahan baku, pasar, biaya angkut, tenaga kerja, modal, tekhnologi, peraturan dan lingkungan dapat dilakukan dengan klasifikasi sebagai berikut:
a. Lokasi industri dekat dengan bahan baku jika:
1) Bahan baku yang digunakan mudah rusak,
2) Pengangkutan barang jadi lebih mudah jika dibandingkan dengan pengangkutan bahan baku,
3) Bahan baku yang digunakan lebih berat daripada produk yang dihasilkan.

b. Lokasi industri berdasar pasar, jika:
1) Produksi yang dihasilkan lebih berat dibandingkan dengan bahan baku,
2) Bahan baku yang digunakan tidak mudah rusak,
3) Wilayah pasar luas,
4) Produksi yang dihasilkan lebih mudah rusak setelah pengolahan,
5) Faktor prestise (gengsi lebih dipentingkan, misalnya industri periklanan/advertising).

c. Lokasi industri berdasarkan biaya angkut, berarti sedapat mungkin didirikan di daerah yang lancar transportasinya baik jumlah hasil produksinya maupun bahan-bahan baku yang diperlukan. 

d. Lokasi industri berorientasi pada tenaga kerja
Tenaga kerja dalam industri erkaitan dengan dua hal, yaitu:
(1) Kuantitas atau jumlah tenaga kerja yang ditampung oleh industri
(2) Kualitas atau mutu tenaga kerja yang dimiliki industri

e. Lokasi industri berdasarkan modal dan tekhnologi
Lokasi industri perlu diperhitungkan, besarnya modal yang dibutuhkan dalam proses produksi, dan perlu memiliki tekhnologi yang menjadikan industri lebih efisien. Dalam tekhnologi yang dipertimbangkan sumber tenaga yang paling tepat digunakan, seperti tenaga hewan, tenaga air, tenaga listrik, tenaga gas, batubara, atau minyak bumi.

f. Lokasi industri berdasarkan peraturan dan lingkungan
Berkaitan dengan hal ini, pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah no.29 tahun 1986 tentang pelaksanaan analisis dampak lingkungan (AMDAL), atau analisis mengenai dampak lingkungan.